Teladan Khalid bin Walid Melawan Post Power Syndrome dalam Perspektif Etika Islam
- https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/05/2150960892-1-1024x574.jpg
Dalam konteks modern, teladan Khalid sangat relevan bagi pejabat publik, aparatur negara, maupun profesional.
Ketika jabatan dipahami sebagai sarana pengabdian, maka akhir masa jabatan tidak akan melahirkan krisis, melainkan fase baru kehidupan yang tetap bermakna. Inilah bentuk kepemimpinan yang sehat, beretika, dan berorientasi pada nilai, bukan kekuasaan.
Analisis
Kisah Khalid bin Walid memperlihatkan hubungan erat antara niat, keikhlasan, dan kesehatan mental dalam menghadapi kehilangan jabatan. Post power syndrome sejatinya bukan sekadar persoalan psikologis, tetapi juga krisis makna hidup. Islam menawarkan solusi melalui orientasi niat dan ketundukan kepada Allah sebagai pusat identitas diri.
Dalam perspektif hukum dan etika publik, nilai ini relevan untuk membangun budaya kekuasaan yang tidak transaksional dan bebas dari kultus individu. Pejabat yang berorientasi pada amanah akan lebih siap menerima pergantian kekuasaan secara dewasa dan konstitusional.
Dengan demikian, teladan Khalid bin Walid bukan hanya pelajaran moral individual, tetapi juga fondasi etika bagi kepemimpinan dan tata kelola kekuasaan yang sehat.