Teladan Khalid bin Walid Melawan Post Power Syndrome dalam Perspektif Etika Islam
- https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/05/2150960892-1-1024x574.jpg
Ketika Khalifah Umar bin Khattab memutuskan mencopot Khalid dari jabatan panglima dan menggantikannya dengan Abu Ubaidah bin Jarrah, keputusan itu tidak disertai kegaduhan politik. Khalid tetap melanjutkan perjuangan sebagai prajurit biasa.
Sikap ini menunjukkan bahwa baginya, jabatan bukan tujuan, melainkan sarana. Niatnya sejak awal adalah berjihad di jalan Allah, bukan mempertahankan kekuasaan atau popularitas.
Pemecatan Khalid bin Walid dan Perlindungan Akidah Umat
Keputusan Umar bin Khattab mencopot Khalid bukanlah bentuk ketidakpercayaan atau ketidaksukaan. Umar justru khawatir umat Islam mulai menggantungkan kemenangan pada figur Khalid, bukan pada pertolongan Allah. Hal ini berpotensi merusak akidah dan menumbuhkan kultus individu.
Umar ingin menegaskan bahwa kemenangan sejati berasal dari Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Anfal ayat 17 (Juz 9) bahwa bukan manusia yang memenangkan peperangan, melainkan Allah yang menolong.
Khalid menerima penjelasan tersebut dengan lapang dada. Ia tidak merasa direndahkan atau dizalimi, karena sejak awal orientasi perjuangannya bukan jabatan. Keikhlasan inilah yang menjadikan Khalid tetap besar meski tanpa posisi formal. Ia membuktikan bahwa kehormatan sejati tidak lahir dari kekuasaan, melainkan dari ketulusan niat dan ketaatan kepada Allah.
Post Power Syndrome dalam Perspektif Psikologis dan Religius
Post power syndrome dipahami sebagai kondisi psikologis ketika seseorang mengalami tekanan mental akibat kehilangan jabatan, kekuasaan, atau peran sosial yang sebelumnya memberinya identitas dan makna hidup.
Gejalanya dapat berupa stres, kecemasan, rasa tidak berguna, hingga putus asa. Kondisi ini umumnya muncul ketika individu gagal beradaptasi dengan perubahan status sosial setelah pensiun atau diberhentikan.
Dalam perspektif religius, tingkat religiusitas seseorang sangat memengaruhi daya tahan mental menghadapi perubahan tersebut. Individu yang memiliki orientasi hidup transendental cenderung lebih stabil secara emosional.
Islam mengajarkan agar manusia tidak menggantungkan harga diri pada dunia semata, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hadid ayat 20 (Juz 27) bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan kesenangan yang sementara.
Teladan Khalid bin Walid sebagai Model Kepemimpinan Sehat
Khalid bin Walid terbebas dari post power syndrome karena seluruh pengabdiannya diniatkan untuk Allah. Ia tidak kehilangan makna hidup ketika jabatan dicabut, karena nilai dirinya tidak ditentukan oleh posisi struktural. Sikap ini menunjukkan kematangan spiritual dan emosional seorang pemimpin yang memahami hakikat kekuasaan sebagai amanah sementara.