Ketaatan Kepada Pemimpin Dalam Islam
- https://isma.org.my/wp-content/uploads/2020/04/Dr.-Ahmad-Sanusi-Azmi-Penyelidik-Majlis-Ulama-Isma-MUIS-17.jpg
Olret –Islam memandang kepemimpinan sebagai elemen fundamental dalam kehidupan sosial dan kenegaraan. Tanpa kepemimpinan, masyarakat akan terjebak dalam kekacauan, konflik, dan perpecahan. Karena itu, ajaran Islam tidak hanya menekankan pentingnya adanya pemimpin, tetapi juga kewajiban umat untuk menaati pemimpin tersebut selama berada dalam koridor syariat.
Al-Qur’an menegaskan dalam QS. An-Nisa ayat 59, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” Ayat ini menunjukkan struktur ketaatan yang berjenjang, dimulai dari Allah, Rasul, lalu pemimpin. Ketaatan kepada pemimpin menjadi bagian dari sistem ketertiban yang dikehendaki agama.
Dalam konteks negara modern seperti Indonesia, prinsip ketaatan ini sejalan dengan konstitusi. Undang-Undang Dasar 1945 menempatkan pemerintah sebagai penyelenggara kekuasaan yang sah. Ketaatan warga negara terhadap hukum dan pemerintahan yang konstitusional menjadi prasyarat tegaknya negara hukum sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945.
Urgensi Ketaatan Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Hadis
Hadis riwayat Imam Bukhari menyebutkan sabda Nabi SAW, “Dengarkanlah dan taatilah, meskipun yang memimpin kamu seorang budak Habasyi yang kepalanya seperti kismis.” Hadis ini menunjukkan bahwa ketaatan tidak bergantung pada latar belakang sosial, ras, atau status seseorang, melainkan pada legitimasi kepemimpinannya.
Hadis lain menyatakan, “Barangsiapa taat kepadaku maka sungguh ia telah taat kepada Allah, dan barangsiapa taat kepada pemimpinku maka ia telah taat kepadaku.” Pesan ini menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan perpanjangan dari sistem otoritas yang menjaga ketertiban umat. Tanpa ketaatan, peran pemimpin tidak dapat berjalan efektif.
Secara sosiologis, ketaatan menciptakan stabilitas. Umar bin Khattab pernah mengatakan bahwa tidak ada arti jamaah tanpa pemimpin, dan tidak ada arti pemimpin tanpa kepatuhan. Dalam negara modern, stabilitas politik dan keamanan nasional hanya dapat terwujud jika masyarakat mematuhi hukum dan otoritas yang sah.
Ketaatan Sebagai Pilar Stabilitas Negara
Ketaatan kepada pemimpin bukan sekadar kewajiban spiritual, tetapi juga kebutuhan sosial. Tanpa kepatuhan terhadap otoritas, peraturan tidak akan berjalan dan hukum kehilangan daya ikatnya. Dalam Islam, kepemimpinan berfungsi menjaga agama sekaligus mengatur urusan dunia.