Etika Menasihati Penguasa dan Larangan Pemberontakan dalam Islam

hadis ahkam
Sumber :
  • https://jalandamai.org/wp-content/uploads/2023/01/januari-26.jpg

Olret –Relasi antara rakyat dan penguasa dalam Islam tidak dibangun di atas ketaatan buta, tetapi di atas prinsip keadilan, nasihat, dan tanggung jawab moral. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana seorang Muslim menyikapi kebijakan pemimpin, baik ketika kebijakan itu adil maupun ketika mengandung kekeliruan. Islam tidak menutup ruang kritik, namun mengaturnya dengan adab dan pertimbangan kemaslahatan.

Demokrasi dan Politik Kedaulatan Rakyat

Sejumlah hadis yang diriwayatkan oleh para ulama hadis menjelaskan batas antara kritik konstruktif dan tindakan yang berpotensi merusak stabilitas umat. Dalam konteks ini, Islam mengajarkan keseimbangan antara kewajiban menasihati dan larangan memecah belah persatuan. Prinsip ini menjadi fondasi penting dalam menjaga tatanan sosial dan politik umat.

Di Indonesia, prinsip menjaga ketertiban umum dan keutuhan negara juga ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya Pasal 1 ayat (3) yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara hukum, serta Pasal 28J yang menegaskan bahwa pelaksanaan hak dan kebebasan harus menghormati hak orang lain serta mempertimbangkan ketertiban umum.

Syura Dalam Perspektif Islam

Hadis Tentang Kritik Terhadap Penguasa dan Prinsip Keadilan

Dalam Musnad Ahmad nomor 15333 diriwayatkan kisah Hisyam bin Hakim yang mengkritik tindakan Iyadh bin Ghanam ketika mencambuk penduduk Daraya. Hisyam mengingatkan sabda Nabi bahwa manusia yang paling keras azabnya adalah yang paling keras hukumannya terhadap manusia di dunia. Hadis ini menunjukkan bahwa penguasa tidak kebal dari kritik ketika kebijakan atau tindakannya berpotensi zalim.

Perang dalam Perspektif Islam

Pesan moral hadis tersebut sangat kuat, yaitu bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan prinsip proporsionalitas dan keadilan. Hukuman yang berlebihan bukan hanya berdampak sosial, tetapi juga memiliki konsekuensi moral di hadapan Allah SWT. Kritik yang disampaikan Hisyam lahir dari kepedulian terhadap nilai keadilan, bukan dari dorongan permusuhan.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 135 yang memerintahkan orang beriman untuk menegakkan keadilan meskipun terhadap diri sendiri atau orang yang dekat. Kritik terhadap penguasa dalam kerangka ini bukan bentuk pembangkangan, melainkan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan secara bertanggung jawab.

Halaman Selanjutnya
img_title