Teladan Khalid bin Walid Melawan Post Power Syndrome dalam Perspektif Etika Islam
- https://bincangsyariah.com/wp-content/uploads/2025/05/2150960892-1-1024x574.jpg
Olret – Dalam kehidupan profesional maupun jabatan publik, tidak sedikit orang yang menggantungkan harga diri dan makna hidup pada kekuasaan, kedudukan, atau posisi tertentu.
Ketika jabatan itu hilang, muncul kegelisahan, kekecewaan, bahkan krisis identitas yang dikenal sebagai post power syndrome. Fenomena ini tidak hanya relevan dalam konteks modern, tetapi juga dapat ditelaah melalui sejarah Islam yang sarat dengan teladan etika kepemimpinan dan keikhlasan.
Islam menempatkan niat sebagai fondasi utama setiap amal perbuatan. Nilai ini tidak hanya berlaku dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam pekerjaan, kepemimpinan, dan pengabdian sosial.
Salah satu kisah paling kuat yang menggambarkan keikhlasan tanpa ketergantungan pada jabatan adalah sikap Khalid bin Walid ketika dicopot dari jabatan panglima perang oleh Khalifah Umar bin Khattab.
Niat sebagai Fondasi Amal dan Etika Kerja
Islam menegaskan bahwa kualitas amal tidak diukur dari besar kecilnya perbuatan, melainkan dari niat yang melandasinya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjadi prinsip universal dalam etika Islam, termasuk dalam bekerja dan memegang jabatan.
Niat yang ikhlas karena Allah menjadikan setiap aktivitas bernilai ibadah, bahkan pada perbuatan yang bersifat mubah. Ketika pekerjaan dilakukan bukan demi pujian, kekuasaan, atau keuntungan pribadi, maka kehilangan jabatan tidak akan melahirkan kehampaan batin.
Seorang mukmin akan memperoleh pahala dan ketenangan sesuai dengan kadar keikhlasan niatnya, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5 (Juz 30) bahwa manusia diperintahkan beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.
Khalid bin Walid dan Makna Kepemimpinan Tanpa Ambisi Jabatan
Khalid bin Walid dikenal sebagai salah satu panglima perang terbesar dalam sejarah Islam dan mendapat gelar Saifullah al-Maslul atau Pedang Allah. Keunggulannya dalam strategi dan taktik perang menjadikan dirinya figur sentral dalam berbagai kemenangan umat Islam, termasuk dalam Perang Yarmuk melawan Romawi. Namun, kehebatan ini tidak membuat Khalid terikat pada jabatan atau kekuasaan.