7 Sunnah di Hari Raya Idul Fitri yang Sering Dilupakan
- pinterest.com
Dari Jubair bin Nufair, ia berkata "Jika para sahabat Rasulullah SAW berjumpa di hari Id, satu sama lain saling mengucapkan, Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian)." (Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan sanad hadits ini hasan, Fath Al-Bari 2:446)
Ucapan lain seperti "Minal aidin wal faizin", "Kullu 'amin wa antum bi khair", atau sekadar "Selamat Idul Fitri" juga diperbolehkan. Tidak ada aturan ketat soal redaksinya yang penting maknanya baik dan disampaikan dengan tulus.
6. Memakai Pakaian Terbaik yang Dimiliki
Banyak yang mengira tradisi baju baru Lebaran hanyalah budaya semata. Padahal ada dalil yang langsung dari Rasulullah SAW tentang anjuran berpenampilan terbaik di hari raya meskipun "terbaik" bukan berarti harus baru atau mahal.
"Rasulullah SAW memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami miliki." (HR. Al-Hakim)
Makna "terbaik" di sini adalah pakaian yang paling bersih, paling rapi, dan paling sopan dari semua yang dimiliki bukan yang paling mahal atau paling baru. Ini adalah bentuk tahadduts bin ni'mah (mengekspresikan syukur atas nikmat) setelah selesai menjalani Ramadan. Kesunnahan ini berlaku untuk semua orang, termasuk yang tidak ikut shalat Id sekalipun.
7. Shalat Sunnah Dua Rakaat Setelah Pulang ke Rumah
Ini sunnah yang paling jarang diketahui: setelah pulang dari shalat Id, Rasulullah SAW melaksanakan shalat sunnah dua rakaat di rumah. Bukan di lapangan atau masjid tapi setelah tiba kembali di rumah.
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata "Nabi SAW tidak shalat (sunnah) sebelum shalat Id. Apabila beliau kembali ke rumahnya, beliau shalat dua rakaat." (HR. Ibnu Majah no. 1293, dishahihkan Al-Hakim dan dihasankan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari)
Sunnah ini sekaligus menjelaskan bahwa tidak ada shalat sunnah sebelum shalat Id tidak seperti shalat Jum'at yang ada sunnah qabliyah. Shalat sunnahnya justru dilakukan setelah pulang ke rumah.
Tujuh sunnah di atas bukan sekadar ritual tambahan tapi juga cara Rasulullah SAW menghidupkan hari kemenangan dengan penuh makna, dari bangun pagi hingga kembali ke rumah. Setiap gerakannya punya hikmah, setiap amalannya punya dalil.