6 Aturan Tak Tertulis Buat yang Belajar Ngerem Kebiasaan Oversharing di Sosmed

Kunci Sukses Konten Kreator
Sumber :
  • freepik.com

Olret – Upload foto makanan, story curhat soal drama kantor, posting rutinitas pagi sampai malam, update lokasi real-time yang semua itu terasa normal di era media sosial seperti sekarang. Tapi di suatu titik, muncul pertanyaan kecil di kepala "Ini perlu nggak sih di-share?"

6 Kebiasaan Sederhana untuk Meningkatkan Literasi Si Kecil Sejak Dini

Oversharing di media sosial bukan cuma soal privasi yang bocor, ini juga soal kesehatan mental, citra diri, dan bagaimana orang lain membaca kehadiran digital seseorang. Mulai belajar ngerem bukan berarti harus jadi misterius atau anti-sosial. Ini soal memilih dengan lebih sadar apa yang layak dibagikan dan apa yang lebih berharga disimpan untuk diri sendiri.

Nggak ada buku panduan resminya, tapi ada aturan tak tertulis yang dipegang oleh orang-orang yang sudah lebih bijak bermain media sosial. Ini dia enam di antaranya.

Sering Scroll HP Bikin Otak Makin Lelah, Ini Penjelasannya

1. Tunggu 24 Jam Sebelum Posting Sesuatu yang Emosional

Aturan pertama dan paling klasik jangan posting saat emosi masih panas. Entah itu marah, kecewa, patah hati, atau bahkan terlalu bahagia, emosi yang intens seringkali mendorong keputusan berbagi yang belakangan disesali. Satu malam tidur bisa mengubah "ini harus di-share sekarang" menjadi "untung nggak jadi posting."

6 Bahaya Tidur Setelah Makan Sahur Bagi Kesehatan Tubuh

Tunggu 24 jam bukan berarti perasaan itu tidak valid justru sebaliknya. Ini memberi ruang untuk memproses emosi secara pribadi dulu, sebelum memutuskan apakah memang perlu dibagikan ke publik atau cukup disimpan dalam jurnal pribadi.

2. Tanya Dulu, "Siapa yang Sebenarnya Butuh Tahu Ini?"

Sebelum menekan tombol post, coba tanyakan satu pertanyaan sederhana ini “siapa yang sebenarnya perlu tahu informasi ini?” Kalau jawabannya adalah orang-orang tertentu yang dekat  pasangan, sahabat, keluarga. Maka mungkin pesan langsung atau telepon adalah medium yang jauh lebih tepat daripada story yang bisa dilihat ratusan orang.

Media sosial bukan keranjang sampah digital untuk semua hal yang ada di pikiran. Semakin selektif dalam memilih apa yang dibagikan, semakin bermakna setiap konten yang muncul di feed, baik untuk diri sendiri maupun bagi yang melihatnya.

3. Bedakan antara Berbagi dan Mencari Validasi

Halaman Selanjutnya
img_title