Migrain: Pencuri Produktivitas dan Alasan Utama Cuti Kerja

Migrain
Sumber :
  • freepik.com

Olret – Meskipun data menunjukkan bahwa wanita lebih sering mengalami migrain, studi yang secara khusus berfokus pada dampak kondisi ini pada wanita masih terbatas. Beberapa peneliti berpendapat bahwa faktor-faktor historis juga berkontribusi pada kesenjangan ini.

Mengapa Wanita Tiga Kali Lebih Mungkin Menderita Migrain Dibandingkan Pria?

Di masa lalu, wanita dengan migrain dikaitkan dengan stigma. Menurut analisis stigma dalam penelitian migrain yang diterbitkan pada tahun 2024, ahli neurologi Harold G. Wolff, yang dianggap sebagai "bapak penelitian sakit kepala modern," mendiagnosis migrain secara berbeda pada pria dan wanita.

Ia memandang migrain pada wanita sebagai masalah psikologis, yang mengarah pada anggapan bahwa otak wanita "rapuh." Perspektif ini mengakibatkan banyak pasien wanita tidak dianggap serius.

Pandangan seperti itu telah berdampak jangka panjang. Kesehatan wanita tetap menjadi bidang yang kurang mendapat penelitian dan investasi. Menurut Husøy, hal ini dapat menyebabkan beban penyakit yang lebih besar bagi wanita.

5 Tempat Wisata di Semarang yang Cocok Jadi Destinasi Libur Lebaran Bareng Keluarga

Gangguan sakit kepala termasuk di antara enam kondisi paling melemahkan di dunia. Migrain juga merupakan penyebab umum ketidakhadiran di tempat kerja.

Pada wanita, kondisi ini sering memuncak selama periode tersibuk dalam hidup mereka, ketika mereka menyeimbangkan pengembangan karier dan tanggung jawab keluarga. Tingkat migrain pada pria dan wanita mencapai puncaknya pada usia 30-an. Setelah itu, ketika wanita memasuki perimenopause pada usia 40-an, gejalanya dapat memburuk.

Penelitian ini dipandang sebagai langkah penting untuk meringankan beban ini. Husøy mengatakan timnya berharap untuk terus memperluas penelitian guna lebih memahami perbedaan antara pria dan wanita dalam nyeri migrain.

Profil dr. Byanca Lauwardi: Dedikasi Dokter Muda dalam Dunia Medis dan Olahraga Berkuda

Penelitian baru membuka jalan untuk pengobatan migrain pada wanita.

Penelitian baru ini juga dapat membuka jalan untuk pengobatan yang lebih tepat bagi wanita. Suchitra Joshi, profesor neurologi di University of Virginia Brain Institute, menerbitkan sebuah studi pada tahun 2025 yang meneliti peran hormon progesteron. Hormon ini berperan dalam mengatur siklus menstruasi dan diproduksi selama bulan-bulan awal kehamilan.

Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa mengaktifkan reseptor progesteron pada tikus betina membuat mereka lebih sensitif terhadap gejala yang berhubungan dengan migrain. Sebaliknya, memblokir reseptor ini mengurangi gejala.

Hasil dari penelitian pada hewan tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan manusia. Namun, menurut Joshi, memahami peran hormon wanita penting ini dapat membantu menjelaskan patogenesis migrain.