Dinasti Safawi Persia: Dari Gerakan Tarekat Menuju Negara Mazhab dan Kekuasaan Regional

PK. Kenegaraan Islam
Sumber :
  • https://pict.sindonews.net/dyn/850/pena/news/2022/03/08/786/706441/dinasti-safawiyah-bermula-dari-gerakan-tarekat-menjadi-kerajaan-keu.jpg

Olret –Runtuhnya Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad akibat serangan bangsa Mongol menjadi titik balik besar dalam sejarah politik Islam. Dunia Islam memasuki masa fragmentasi kekuasaan, di mana otoritas politik terpecah ke dalam kerajaan-kerajaan kecil yang kerap saling berkonflik. Di tengah kemunduran tersebut, muncul tiga kekuatan besar yang kemudian menghidupkan kembali peradaban Islam, yakni Turki Usmani, Mughal di India, dan Safawi di Persia. Dari ketiganya, Safawi memiliki karakter unik karena lahir dari gerakan keagamaan yang kemudian berkembang menjadi negara dengan identitas mazhab yang tegas.

Para Penggemar Arab Saudi Bereaksi Secara Kolektif Setelah Kekalahan Menyakitkan Mereka dari U23 Vietnam

Lahirnya Dinasti Safawi dari Gerakan Tarekat

Dinasti Safawi bermula dari Tarekat Safawiyah yang didirikan oleh Syekh Safi al-Din di Ardabil, Azerbaijan. Awalnya, tarekat ini bergerak dalam bidang dakwah dan tasawuf dengan tujuan memperkuat pemurnian ajaran Islam. Namun, seiring bertambahnya pengikut yang fanatik dan terorganisir, gerakan keagamaan ini berkembang menjadi kekuatan sosial dan politik yang signifikan di Persia dan sekitarnya.

Negara Islam dan Negara Sekuler dalam Dinamika Fiqih Siyasah dan Ketatanegaraan Modern

Transformasi tarekat menjadi kekuatan politik terjadi secara bertahap, terutama ketika para penerus Safi al-Din mulai membangun milisi bersenjata. Perubahan orientasi ini menunjukkan bahwa agama, dalam konteks tertentu, dapat menjadi sumber legitimasi politik yang kuat, sekaligus alat mobilisasi massa dalam membangun kekuasaan negara.

Ismail I dan Proklamasi Negara Safawi

Islam dan Sistem Multipartai: Dialektika Syariah, Kekuasaan, dan Demokrasi Konstitusional

Puncak dari proses politik tersebut terjadi pada tahun 1501 M ketika Ismail I, dengan dukungan pasukan Qizilbash, berhasil merebut Tabriz dan memproklamasikan diri sebagai raja pertama Dinasti Safawi. Langkah strategis Ismail I menetapkan Syiah Dua Belas sebagai mazhab resmi negara menjadi pembeda utama Safawi dibanding kerajaan Islam lain pada masanya.

Keputusan ini tidak hanya berdampak keagamaan, tetapi juga membentuk identitas hukum dan politik negara. Safawi secara sadar membangun negara berbasis mazhab, yang kemudian menjadi fondasi terbentuknya Iran sebagai negara Syiah hingga saat ini. Dalam perspektif hukum tata negara, fase ini menunjukkan bagaimana ideologi resmi negara dapat membentuk arah kebijakan publik dan struktur pemerintahan.

Hubungan Agama dan Negara dalam Pemerintahan Safawi

Pada masa awal, pemerintahan Safawi bersifat teokratis, di mana raja memegang otoritas politik sekaligus keagamaan. Struktur kekuasaan ini memungkinkan negara mengendalikan hukum, militer, dan institusi keagamaan secara terpusat. Namun, seiring waktu, pola ini mengalami penyesuaian, terutama pada masa Syah Abbas I.

Halaman Selanjutnya
img_title