Benarkah Baca Buku Bikin Cepat Lupa? Ini Fakta Sebenarnya
- Pexels/Antoni Shkraba Studio
Olret – Fenomena rajin membaca tapi justru sering lupa hal-hal sepele, seperti menaruh remot TV, kunci, atau ponsel, cukup sering dialami banyak orang.
Kondisi ini lalu memunculkan anggapan bahwa kebiasaan membaca buku bisa membuat seseorang jadi pelupa. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ada penjelasan ilmiah yang jauh lebih masuk akal di baliknya.
Membaca Buku Tidak Membuat Otak Melemah
Ilustrasi self care dengan membaca buku
- Unsplash/Joel Muniz
Secara ilmiah, membaca buku justru memberi banyak manfaat bagi otak. Aktivitas ini melatih konsentrasi, memperkaya kosakata, memperkuat daya ingat jangka panjang, serta membantu menjaga kesehatan kognitif seiring bertambahnya usia.
Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membaca secara rutin berkaitan dengan fungsi otak yang lebih baik dan risiko penurunan kognitif yang lebih rendah.
Fokus Terlalu Dalam Bisa Membuat Lupa Sekitar
Ilustrasi membaca bersama
- Pexels/Antoni Shkraba Studio
Saat membaca buku yang menarik, otak bisa masuk ke kondisi deep focus atau cognitive absorption. Dalam kondisi ini, perhatian sepenuhnya tercurah pada isi bacaan. Otak memprioritaskan informasi dari buku dan mengesampingkan kejadian kecil di sekitar.
Akibatnya, aktivitas sederhana seperti meletakkan remot atau kunci dilakukan tanpa perhatian penuh. Informasi tersebut tidak tersimpan dengan baik dalam memori, bukan karena otak melemah, tetapi karena sejak awal tidak dianggap penting oleh sistem memori.
Working Memory Punya Kapasitas Terbatas
Ilustrasi membaca buku
- https://www.pexels.com/@pixabay
Otak manusia memiliki working memory yang kapasitasnya terbatas. Saat membaca, ruang memori ini digunakan untuk memahami alur, tokoh, dan makna bacaan. Jika di waktu yang sama seseorang melakukan aktivitas kecil lain, otak akan memilih informasi yang dianggap lebih penting. Hal-hal sepele seperti lokasi barang pun mudah terlewat.
Pikiran Masih Tenggelam dalam Bacaan
Membaca buku
- shutterstock
Setelah selesai membaca, pikiran sering kali masih terhubung dengan isi buku, terutama jika bacaan tersebut emosional atau kompleks. Kondisi ini dikenal sebagai mind wandering.
Tubuh mungkin sudah berpindah aktivitas, tetapi perhatian mental masih berada di dunia bacaan. Inilah sebabnya kejadian kecil setelah membaca sering tidak terekam jelas dalam ingatan.
Multitasking Jadi Biang Kerok
Banyak orang membaca sambil melakukan hal lain, seperti menonton TV, membuka ponsel, atau berbincang. Multitasking membuat otak terus berpindah fokus dan melemahkan proses pembentukan memori jangka pendek. Akibatnya, informasi kecil yang tidak mendapat perhatian penuh lebih mudah dilupakan.
Faktor Tambahan yang Memicu Lupa
Kurang tidur, stres, dan kelelahan mental juga memengaruhi daya ingat. Kebiasaan membaca di malam hari saat tubuh sudah lelah membuat otak tidak optimal menyimpan detail sederhana. Ini bukan kesalahan membaca, melainkan sinyal bahwa tubuh dan otak butuh istirahat.
Jadi, Apa Kesimpulannya?
Membaca buku tidak membuat seseorang cepat lupa. Lupa hal-hal kecil justru sering terjadi karena fokus yang terlalu dalam, keterbatasan working memory, dan kebiasaan multitasking.
Dengan meningkatkan kesadaran saat melakukan aktivitas sederhana dan memberi jeda setelah membaca, kebiasaan lupa bisa diminimalkan. Membaca tetap menjadi salah satu kebiasaan terbaik untuk menjaga kesehatan otak, meski sesekali membuat kita lupa di mana terakhir menaruh remot.