7 Alasan Kamu Nggak Bisa Move On dari Mantan
Olret – Sudah lama putus, tapi nama dia masih sering muncul di kepala. Lagu tertentu langsung bikin ingat kenangan, atau tanpa sadar kamu masih kepo media sosialnya. Kalau ini yang kamu rasakan, tenang kamu nggak sendirian. Sulit move on bukan berarti kamu lemah, tapi ada proses emosional yang belum selesai. Berikut tujuh alasan kenapa kamu nggak bisa move on dari mantan.
1. Terlalu Melekat pada Kenangan, Bukan Realita
Sering kali yang kamu rindukan bukan orangnya, tapi versi hubungan yang ideal di kepala. Otak cenderung menyimpan momen manis dan menghapus konflik yang pernah ada. Akibatnya, mantan terlihat “sempurna”, padahal kenyataannya hubungan itu berakhir karena ada masalah yang nyata.
2. Luka Emosional Belum Diproses
Move on bukan soal waktu, tapi soal proses. Kalau kamu memilih memendam emosi, rasa sedih, marah, kecewa tanpa benar-benar mengakuinya, luka itu akan tetap ada. Emosi yang tidak diproses justru membuat kamu terjebak di perasaan lama.
3. Harga Diri Masih Terikat pada Hubungan
Bagi sebagian orang, hubungan jadi sumber validasi diri. Saat hubungan berakhir, rasa berharga ikut runtuh. Kamu bukan kangen mantan, tapi kangen versi diri yang merasa dicintai dan dipilih. Tanpa sadar, kamu ingin kembali ke sana untuk menenangkan ego yang terluka.
4. Takut Memulai dari Nol
Memulai hubungan baru berarti membuka diri, membangun kepercayaan, dan berisiko terluka lagi. Rasa takut ini membuat otak memilih bertahan pada sesuatu yang familiar, meski sudah tidak sehat. Mantan terasa “aman” karena sudah dikenal, walau sebenarnya menyakitkan.
5. Terlalu Sering Mengulang Kontak
Masih sering chat, stalking media sosial, atau bertanya kabar lewat teman? Ini adalah salah satu penghambat terbesar move on. Setiap interaksi kecil bisa mengaktifkan kembali ikatan emosional dan memberi harapan palsu yang membuat kamu sulit benar-benar lepas.
6. Belum Memaafkan, Entah Dia atau Diri Sendiri
Rasa bersalah, penyesalan, atau kemarahan yang belum tuntas bisa membuat kamu terjebak. Mungkin kamu menyalahkan diri karena merasa “kurang”, atau marah karena diperlakukan tidak adil. Selama proses memaafkan belum terjadi, perasaan akan terus tertahan.