Antara Narasi "Surga" dan Penegakan Hukum Agama: Riuh Debat Netizen di Postingan Ustaz Hilman Fauzi
- youtube
Olret – Jagat media sosial kembali menjadi panggung perdebatan hangat mengenai metodologi dakwah di era modern.
Kali ini, sebuah unggahan dari pendakwah muda, Ustaz Hilman Fauzi, yang mengajak masyarakat untuk tidak mudah menghakimi akhirat seseorang, menuai reaksi beragam—mulai dari dukungan hingga kritik tajam dari netizen yang menginginkan narasi dakwah yang lebih "tegas".
Narasi Kelembutan vs. Urgensi Akidah
Thread viral
- threads
Dalam unggahan di thread dengan fitur "Menata Hati", Hilman Fauzi menekankan pentingnya berprasangka baik (husnuzan) terhadap nasib spiritual sesama manusia. Ia menuliskan bahwa amalan tersembunyi seseorang bisa menjadi kunci surga yang tidak diketahui orang lain.
"Jangan mudah menjudge surga & neraka seseorang. Karena kita tidak tahu amalan tersembunyi apa yang dia miliki, sehingga Allah izinkan nanti dia masuk Surga," tulisnya.
Namun, pesan yang bernada menyejukkan tersebut rupanya memicu kegelisahan bagi sebagian pengikutnya. Pantauan di kolom komentar menunjukkan adanya polarisasi pandangan mengenai bagaimana seharusnya seorang pemuka agama memposisikan diri di tengah isu-isu moral masyarakat.
Kritik Atas "Normalisasi" dan Dakwah Populer
hilman fauzi
- youtube
Kritik yang muncul cukup bervariasi. Akun dhonnichandra, misalnya, memberikan perspektif bahwa tugas seorang pendakwah bukan hanya memberi harapan, tetapi juga membedakan mana yang benar (haq) dan yang salah (bathil).
Ia menyoroti adanya kekhawatiran terhadap "krisis akidah" di kalangan anak muda yang memerlukan arahan lebih tegas.
"Menyampaikan yang Haq dan bathil itu juga tugas manusia ustad. Jangan sampai berlindung dibalik jgn judge jadi membiarkan sebuah keburukan terjadi. Allah perintahkan hamba-hambanya untuk berdakwah sesuai kemampuannya masing-masing. Ustad muda seharusnya bisa menyampaikan apa itu Haq dan apa itu bathil. Anak-anak muda saat ini krisis akidah. Ustad muda harus lebih giat dan keras. Kelak nantipun Allah akan meminta pertanggungjawaban kita soal dakwah kita seperti apa dan sampai mana. Salam" balas akun @dhonnichandra
Nada yang lebih pedas datang dari pengguna lain yang mengkritik tren dakwah "estetik" atau populer. Beberapa poin keberatan netizen meliputi Komersialisasi Dakwah yang menilai Kritik terhadap kajian-kajian bertema asmara yang diadakan di hotel mewah.