Mengenal Overstimulus pada Orang Dewasa; Pengertian, Dampak, Hingga Cara Menguranginya
- freepik.com
Olret – Berasa capek padahal nggak ngapa-ngapain? Kepala penuh, emosi gampang naik, tapi sulit jelasin kenapa? Bisa jadi itu bukan sekadar lelah biasa, melainkan tanda overstimulus. Kondisi ini makin sering dialami orang dewasa, apalagi di era serba cepat dan penuh distraksi seperti sekarang.
Apa Itu Overstimulus?
Overstimulus adalah kondisi ketika otak menerima terlalu banyak rangsangan dalam waktu bersamaan atau terus-menerus, sampai akhirnya kewalahan. Rangsangan ini bisa berupa suara, cahaya, notifikasi gadget, tuntutan pekerjaan, obrolan sosial, bahkan pikiran sendiri yang nggak berhenti muter.
Otak manusia sebenarnya punya batas kemampuan memproses informasi. Saat batas itu terlampaui, sistem saraf masuk mode “overload”. Hasilnya? Tubuh dan pikiran bereaksi dengan cara yang sering kita anggap sepele, padahal cukup serius kalau dibiarkan.
Kenapa Orang Dewasa Rentan Overstimulus?
Banyak yang mengira overstimulus cuma dialami anak-anak. Faktanya, orang dewasa justru sangat rentan karena tuntutan hidup yang kompleks. Pekerjaan multitasking, deadline kejar-kejaran, tanggung jawab keluarga, plus paparan media sosial yang nyaris tanpa jeda.
Belum lagi budaya “harus selalu responsif”. Chat masuk harus dibalas cepat, email dituntut langsung dibuka, dan berita buruk datang silih berganti. Tanpa sadar, otak dipaksa aktif terus tanpa waktu pemulihan.
Tanda-Tanda Overstimulus pada Orang Dewasa
Overstimulus sering menyamar jadi keluhan sehari-hari. Beberapa tanda yang umum muncul antara lain mudah marah atau tersinggung, sulit fokus, cepat lelah meski tidak melakukan aktivitas berat, serta keinginan untuk menyendiri secara tiba-tiba.
Secara fisik, bisa muncul sakit kepala, tegang di leher dan bahu, jantung berdebar, atau gangguan tidur. Secara emosional, seseorang bisa merasa cemas tanpa sebab jelas, overwhelmed, atau kehilangan motivasi.
Dampaknya Kalau Diabaikan
Kalau overstimulus terus terjadi tanpa disadari, dampaknya nggak main-main. Produktivitas bisa menurun, kualitas hubungan terganggu, dan risiko burnout meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu gangguan kecemasan dan kelelahan mental kronis.
Yang bikin tricky, banyak orang dewasa justru menyalahkan diri sendiri. Merasa “kurang kuat”, “kurang bersyukur”, atau “terlalu baper”, padahal yang terjadi adalah sistem sarafnya sedang kelelahan.
Cara Sederhana Mengurangi Overstimulus
Mengatasi overstimulus bukan berarti harus kabur dari dunia. Kuncinya ada di mengatur ulang ritme hidup. Mulai dari hal kecil seperti mematikan notifikasi yang tidak penting, memberi jeda tanpa layar beberapa menit setiap hari, dan mengurangi multitasking.
Menyusun prioritas juga penting. Tidak semua hal harus ditanggapi saat itu juga. Tubuh dan otak butuh sinyal aman untuk bisa tenang. Aktivitas sederhana seperti jalan kaki, tarik napas dalam, atau duduk diam tanpa distraksi bisa membantu menurunkan beban rangsangan.
Kenali Batasan, Bukan Kelemahan
Mengalami overstimulus bukan tanda lemah. Justru itu sinyal bahwa tubuh dan pikiran sedang minta jeda. Di tengah dunia yang ribut dan serba cepat, kemampuan mengenali batas diri adalah bentuk self-awareness yang penting.
Dengan memahami apa itu overstimulus, seseorang bisa lebih peka terhadap kebutuhan mentalnya sendiri. Bukan untuk menghindari tanggung jawab, tapi agar tetap waras, seimbang, dan punya energi yang cukup untuk menjalani hidup.