Jangan FOMO Beli Emas Kalau Finansial Kamu Masih Segini
- Beritasatu.com
Olret – Berita harga emas yang terus naik memang bikin banyak orang gelisah. Timeline penuh dengan cerita cuan, grup keluarga ramai bahas logam mulia, dan konten finansial berlomba-lomba bilang, “emas itu aset aman.” Tanpa sadar, muncul rasa takut ketinggalan alias FOMO. Padahal, tidak semua kondisi keuangan cocok untuk ikut-ikutan beli emas. Di tahap finansial tertentu, keputusan ini justru bisa jadi bumerang.
Berikut penjelasan kenapa kamu sebaiknya menahan diri dari FOMO beli emas jika finansialmu masih berada di fase-fase berikut.
1. Dana darurat belum aman
Dana darurat adalah fondasi utama keuangan sehat. Idealnya, kamu punya tabungan setara 3–6 bulan pengeluaran rutin. Jika pos ini belum terpenuhi, membeli emas bukan langkah bijak. Emas memang bernilai, tapi tidak selalu likuid dalam kondisi mendesak. Saat butuh uang cepat, menjual emas bisa makan waktu dan harga jualnya belum tentu optimal.
2. Masih punya utang konsumtif berbunga tinggi
Cicilan kartu kredit, paylater, atau pinjaman online dengan bunga tinggi seharusnya jadi prioritas utama. Keuntungan emas dalam jangka pendek sering kali tidak mampu menutup beban bunga utang tersebut. Dalam kondisi ini, beli emas hanya memberi rasa “punya aset”, tapi secara riil kondisi keuangan masih tertekan.
3. Penghasilan belum stabil
Jika pemasukan masih fluktuatif atau belum punya sumber pendapatan yang konsisten, fokuslah pada kestabilan cash flow. Emas bukan alat penyelamat ketika penghasilan naik turun. Justru kamu butuh fleksibilitas dana untuk menutup kebutuhan dasar, bukan menguncinya dalam bentuk aset jangka menengah hingga panjang.
4. Masih sering gali lubang tutup lubang
Jika tiap akhir bulan masih mengandalkan pinjaman atau geser sana-sini untuk bertahan sampai gajian berikutnya, itu sinyal keuangan belum siap investasi. Emas seharusnya dibeli dari uang dingin, bukan dari sisa napas keuangan. Memaksakan beli emas di tahap ini hanya memperpanjang siklus stres finansial.
5. Belum punya tujuan keuangan yang jelas
Beli emas hanya karena “katanya aman” atau “lagi naik” adalah alasan emosional, bukan strategi. Investasi yang sehat selalu berangkat dari tujuannya untuk dana pendidikan, pernikahan, rumah, atau pensiun. Tanpa tujuan, emas berisiko jadi aset pasif yang akhirnya dijual kembali saat terdesak, sering kali di harga yang tidak ideal.