6 Hal yang Bikin Gen Z Gampang Burnout Urusan Kerjaan
- freepik.com
Olret – Masuk dunia kerja di era sekarang memang punya tantangan sendiri, terutama buat Gen Z. Di satu sisi, generasi ini dikenal adaptif, kreatif, dan melek teknologi. Tapi di sisi lain, justru banyak yang lebih rentan mengalami burnout. Tekanan kerja yang datang dari berbagai arah sering kali terasa lebih intens dan cepat menguras energi.
Burnout bukan sekadar capek biasa. Kondisi ini bisa bikin kehilangan motivasi, mudah lelah secara emosional, bahkan menurunkan performa kerja. Nah, supaya lebih aware, berikut enam hal yang sering jadi penyebab Gen Z gampang burnout di dunia kerja.
1. Terlalu Perfeksionis di Awal Karier
Banyak Gen Z punya ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri. Ingin selalu tampil maksimal, takut salah, dan merasa harus langsung “jadi”. Padahal, fase awal kerja adalah waktu untuk belajar. Perfeksionisme yang berlebihan justru bikin mental cepat lelah karena merasa nggak pernah cukup baik.
2. Batasan Kerja dan Personal yang Blur
Kerja dari laptop, komunikasi lewat chat, dan fleksibilitas jam kerja sering kali bikin batas antara kerja dan kehidupan pribadi jadi kabur. Akibatnya, pekerjaan terasa “nempel” terus sepanjang hari. Tanpa batas yang jelas, tubuh dan pikiran nggak punya waktu untuk benar-benar istirahat.
3. Overthinking soal Karier
Gen Z cenderung sering memikirkan masa depan secara berlebihan. Mulai dari “apakah ini pekerjaan yang tepat?” sampai “kenapa orang lain sudah lebih sukses?”. Overthinking seperti ini bisa menguras energi mental dan membuat pekerjaan sehari-hari terasa lebih berat dari seharusnya.
4. Terlalu Sering Bandingkan Diri di Media Sosial
Melihat pencapaian orang lain di media sosial bisa jadi pemicu tekanan tersendiri. Feed yang penuh dengan “kesuksesan” orang lain sering membuat merasa tertinggal. Padahal, yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan realita sepenuhnya. Kebiasaan membandingkan diri ini diam-diam mempercepat rasa burnout.
5. Sulit Berkata “Tidak”
Keinginan untuk terlihat kompeten sering membuat Gen Z sulit menolak pekerjaan tambahan. Semua diiyakan, bahkan saat kapasitas sudah penuh. Lama-lama, beban kerja menumpuk dan energi terkuras tanpa disadari. Padahal, kemampuan mengatur batas adalah kunci menjaga kesehatan mental.