6 Cara Ampuh Negosiasi ke Keluarga Mengadakan Intimate Wedding
- freepik
Olret – Banyak Gen Z mulai sadar satu hal penting soal pernikahan bahwa pesta besar belum tentu bikin bahagia. Budget bisa jebol, energi terkuras, dan pengantin malah sibuk salaman sampai lupa menikmati momen sendiri. Sayangnya, keinginan intimate wedding sering mentok di satu titik yaitu keluarga. Bukan karena nggak sayang, tapi karena beda sudut pandang. Nah, biar keinginan intimate wedding tetap jalan tanpa drama berkepanjangan, ini enam cara negosiasi yang lebih elegan dan masuk akal.
1. Datang dengan data, bukan sekadar keinginan
Negosiasi akan lebih kuat kalau didukung angka nyata. Coba bandingkan biaya wedding besar dengan intimate wedding secara detail. Tunjukkan pos-pos pengeluaran yang bisa ditekan, mulai dari catering, gedung, sampai dekorasi. Saat keluarga melihat bahwa pesta kecil berarti pengeluaran lebih sehat dan realistis, mereka cenderung lebih terbuka untuk mendengar.
2. Tekankan kualitas momen, bukan jumlah tamu
Banyak keluarga berpikir pesta besar adalah bentuk kebahagiaan maksimal. Di sini, kamu bisa menggeser sudut pandangnya. Jelaskan bahwa intimate wedding justru memberi ruang untuk benar-benar menikmati momen sakral, ngobrol dengan tamu terdekat, dan tidak kelelahan di hari pernikahan. Pernikahan bukan lomba siapa yang paling ramai, tapi siapa yang paling berkesan.
3. Jelaskan kondisi finansial secara jujur dan dewasa
Gen Z dikenal lebih sadar finansial, dan ini bisa jadi kekuatan. Sampaikan kondisi keuangan apa adanya tanpa nada mengeluh. Jelaskan bahwa kamu ingin memulai rumah tangga tanpa beban utang atau tekanan finansial berlebihan. Banyak orang tua sebenarnya paham, hanya saja butuh penjelasan yang tenang dan dewasa.
4. Tawarkan solusi, bukan penolakan mentah
Alih-alih berkata “nggak mau pesta besar”, coba ajukan opsi tengah. Misalnya, intimate wedding sekarang dan syukuran sederhana di kemudian hari. Atau resepsi kecil khusus keluarga inti, lalu open house santai setelahnya. Keluarga biasanya lebih menerima jika merasa tetap dilibatkan dan tidak “diputuskan sepihak”.
5. Libatkan keluarga dalam konsepnya
Sering kali penolakan muncul karena keluarga merasa idenya diabaikan. Ajak mereka diskusi soal konsep intimate wedding yang tetap sopan, hangat, dan berkelas. Tunjukkan bahwa meski tamu sedikit, acara tetap terkonsep rapi dan bermakna. Ketika keluarga ikut merasa memiliki, resistensi biasanya menurun.