Dinasti Mughal di India: Jejak Kekuasaan Islam, Toleransi, dan Politik Imperium

PK. Kenegaraan Islam
Sumber :
  • https://www.orbitmetro.com/wp-content/uploads/2020/07/MUGAL-A.jpg

Olret –Sebelum membahas Dinasti Mughal sebagai salah satu kekuatan Islam terbesar di India, penting untuk memahami bahwa Islam telah lebih dahulu hadir dan berkembang di wilayah ini jauh sebelum abad ke-16. Penaklukan oleh Dinasti Umayyah, ekspansi Ghaznawiyah, serta keberadaan dinasti-dinasti lokal Islam menunjukkan bahwa Mughal bukanlah pelopor, melainkan penyempurna kekuasaan Islam di India dengan pendekatan politik dan administrasi yang lebih terstruktur.

Negara Islam dan Negara Sekuler dalam Dinamika Fiqih Siyasah dan Ketatanegaraan Modern

Awal Masuknya Islam dan Lahirnya Dinasti Mughal

Islam mulai mengakar di India sejak masa Khalifah al-Walid dari Dinasti Umayyah melalui ekspedisi militer yang dipimpin Muhammad bin Qasim. Perkembangan ini dilanjutkan oleh Dinasti Ghaznawiyah di bawah Sultan Mahmud yang memperluas pengaruh Islam hingga menaklukkan kekuatan Hindu pada awal abad ke-11. Setelah runtuhnya Ghaznawiyah, India berada dalam fragmentasi politik yang ditandai dengan munculnya dinasti-dinasti Islam lokal seperti Khalji, Tughlaq, Sayyid, dan Lodi. Kondisi inilah yang kemudian membuka jalan bagi berdirinya Dinasti Mughal sebagai kekuatan baru yang lebih terorganisasi.

Yamaha Exciter & Honda Winner X Terancam! Raja Baru 162cc Meluncur, Bawa ABS 2-Channel Harga Rp29 Jutaan!

Dinasti Mughal resmi berdiri pada tahun 1526 M setelah Zahiruddin Muhammad Babur menaklukkan Sultan Ibrahim Lodi dalam Pertempuran Panipat. Kemenangan ini bukan hanya menandai pergantian rezim, tetapi juga menjadi titik awal pembentukan kekaisaran Islam yang bertahan lebih dari tiga abad. Babur membawa tradisi militer Asia Tengah serta legitimasi keturunan Timur Lenk dan Jengis Khan, yang memperkuat posisi politiknya di mata elite lokal.

Babur dan Fondasi Kekuasaan Mughal

Umar bin Abdul Aziz: Reformasi Kekuasaan Berbasis Al-Qur’an, Sunnah, dan Keadilan Sosial

Babur dikenal sebagai pemimpin yang tangguh sejak usia muda. Kehilangan ayahnya pada usia sebelas tahun tidak melemahkan ambisinya, justru membentuk karakter kepemimpinan yang disiplin dan visioner. Upayanya merebut Samarkand dan Kabul menunjukkan ketekunan Babur dalam membangun basis kekuasaan sebelum melangkah ke India. Dari Kabul, Babur melihat lemahnya Kesultanan Delhi sebagai peluang strategis untuk memperluas wilayah.

Setelah mendirikan pemerintahan Mughal, Babur menghadapi perlawanan dari koalisi Hindu dan sisa loyalis Dinasti Lodi. Namun, kemenangan Babur dalam pertempuran Gogra tahun 1529 M menegaskan legitimasinya sebagai penguasa India Utara. Meski masa pemerintahannya relatif singkat, Babur berhasil meletakkan fondasi militer dan politik yang kuat bagi keberlanjutan Dinasti Mughal.

Humayun dan Dinamika Kekuasaan yang Rapuh

Sepeninggal Babur, tampuk kekuasaan beralih kepada putranya, Nashiruddin Humayun. Masa pemerintahan Humayun ditandai oleh ketidakstabilan politik dan konflik internal maupun eksternal. Kekalahan dari Sher Shah Suri memaksanya mengasingkan diri ke Persia, di mana ia memperoleh dukungan militer sekaligus mengenal tradisi politik dan budaya Syiah.

Kembalinya Humayun ke Delhi pada tahun 1555 M menandai restorasi kekuasaan Mughal, meskipun tidak berlangsung lama karena wafatnya setahun kemudian. Namun demikian, pengalaman pengasingan Humayun memberikan pengaruh besar terhadap corak pemerintahan Mughal selanjutnya, terutama dalam bidang administrasi dan militer yang lebih terpusat.

Akbar dan Puncak Kejayaan Mughal

Kepemimpinan Jalaluddin Muhammad Akbar menjadi fase paling menentukan dalam sejarah Dinasti Mughal. Naik tahta pada usia muda, Akbar berhasil membangun kekaisaran yang stabil melalui reformasi pemerintahan, ekspansi wilayah, dan kebijakan toleransi agama. Sistem pemerintahan militeristik yang diterapkannya berpadu dengan pendekatan administratif yang modern untuk ukuran zamannya.

Akbar dikenal luas melalui kebijakan sulakhul atau toleransi universal, yang menempatkan seluruh rakyat India dalam kedudukan yang setara tanpa membedakan agama dan etnis. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat legitimasi politik Mughal, tetapi juga menciptakan stabilitas sosial yang mendukung pertumbuhan ekonomi, seni, pendidikan, dan kebudayaan.

Din Ilahi dan Eksperimen Toleransi Beragama

Salah satu kebijakan paling kontroversial Akbar adalah pendirian Din Ilahi, sebuah gagasan spiritual yang berupaya menggabungkan unsur Islam, Hindu, Kristen, Jainisme, dan Zoroastrianisme. Din Ilahi tidak dimaksudkan sebagai agama massa, melainkan sebagai simbol persatuan dan toleransi di tengah pluralitas masyarakat India.

Meskipun mendapat kritik tajam dari kalangan ulama Islam, Din Ilahi mencerminkan upaya Akbar untuk meredam konflik keagamaan dan memperkuat kohesi sosial. Secara politik, kebijakan ini berhasil menarik simpati masyarakat Hindu yang selama ini berada dalam struktur kasta yang diskriminatif.

Kemunduran dan Keruntuhan Dinasti Mughal

Setelah wafatnya Aurangzeb, Dinasti Mughal mengalami kemunduran yang dipicu oleh konflik suksesi, lemahnya kepemimpinan, gaya hidup mewah elit istana, serta kebijakan keagamaan yang represif. Fragmentasi internal diperparah oleh pemberontakan daerah dan melemahnya kontrol pusat terhadap wilayah kekuasaan.

Faktor eksternal seperti serangan Nadir Syah, ekspansi Ahmad Khan Durrani, serta masuknya kekuatan kolonial Inggris melalui East India Company semakin mempercepat runtuhnya kekuasaan Mughal. Pada akhirnya, penangkapan dan pengasingan Bahadur Syah II pada tahun 1858 menandai berakhirnya Dinasti Mughal secara resmi.