Dinasti Mughal di India: Jejak Kekuasaan Islam, Toleransi, dan Politik Imperium

PK. Kenegaraan Islam
Sumber :
  • https://www.orbitmetro.com/wp-content/uploads/2020/07/MUGAL-A.jpg

Humayun dan Dinamika Kekuasaan yang Rapuh

Jejak Ketatanegaraan dan Peradaban Islam di Mesir: Pelajaran Hukum dari Dinasti Fatimiyah dan Ayyubiyah

Sepeninggal Babur, tampuk kekuasaan beralih kepada putranya, Nashiruddin Humayun. Masa pemerintahan Humayun ditandai oleh ketidakstabilan politik dan konflik internal maupun eksternal. Kekalahan dari Sher Shah Suri memaksanya mengasingkan diri ke Persia, di mana ia memperoleh dukungan militer sekaligus mengenal tradisi politik dan budaya Syiah.

Kembalinya Humayun ke Delhi pada tahun 1555 M menandai restorasi kekuasaan Mughal, meskipun tidak berlangsung lama karena wafatnya setahun kemudian. Namun demikian, pengalaman pengasingan Humayun memberikan pengaruh besar terhadap corak pemerintahan Mughal selanjutnya, terutama dalam bidang administrasi dan militer yang lebih terpusat.

Dinasti Mamluk di Mesir: Dari Budak Militer hingga Arsitek Kekuasaan Negara Islam

Akbar dan Puncak Kejayaan Mughal

Kepemimpinan Jalaluddin Muhammad Akbar menjadi fase paling menentukan dalam sejarah Dinasti Mughal. Naik tahta pada usia muda, Akbar berhasil membangun kekaisaran yang stabil melalui reformasi pemerintahan, ekspansi wilayah, dan kebijakan toleransi agama. Sistem pemerintahan militeristik yang diterapkannya berpadu dengan pendekatan administratif yang modern untuk ukuran zamannya.

Islamisasi dan Dinamika Kekuasaan Islam di Afrika Utara: Dinasti Idrisiyah dan Rustamiyah

Akbar dikenal luas melalui kebijakan sulakhul atau toleransi universal, yang menempatkan seluruh rakyat India dalam kedudukan yang setara tanpa membedakan agama dan etnis. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat legitimasi politik Mughal, tetapi juga menciptakan stabilitas sosial yang mendukung pertumbuhan ekonomi, seni, pendidikan, dan kebudayaan.

Din Ilahi dan Eksperimen Toleransi Beragama

Salah satu kebijakan paling kontroversial Akbar adalah pendirian Din Ilahi, sebuah gagasan spiritual yang berupaya menggabungkan unsur Islam, Hindu, Kristen, Jainisme, dan Zoroastrianisme. Din Ilahi tidak dimaksudkan sebagai agama massa, melainkan sebagai simbol persatuan dan toleransi di tengah pluralitas masyarakat India.

Meskipun mendapat kritik tajam dari kalangan ulama Islam, Din Ilahi mencerminkan upaya Akbar untuk meredam konflik keagamaan dan memperkuat kohesi sosial. Secara politik, kebijakan ini berhasil menarik simpati masyarakat Hindu yang selama ini berada dalam struktur kasta yang diskriminatif.

Kemunduran dan Keruntuhan Dinasti Mughal

Setelah wafatnya Aurangzeb, Dinasti Mughal mengalami kemunduran yang dipicu oleh konflik suksesi, lemahnya kepemimpinan, gaya hidup mewah elit istana, serta kebijakan keagamaan yang represif. Fragmentasi internal diperparah oleh pemberontakan daerah dan melemahnya kontrol pusat terhadap wilayah kekuasaan.

Halaman Selanjutnya
img_title