Manusia yang Paling Dibenci oleh Allah Adalah Orang yang Keras Kepala dan Suka Berdebat
- youtube
Olret – Di Indonesia, fenomena berdebat kini menjadi santapan sehari-hari terutama di media sosial. Namun, apa jadinya jika adu argumen berubah menjadi arena pertempuran ego?
Dalam literatur keagamaan, orang yang memiliki sifat Al-Aladdul Khasim (keras kepala dan suka berdebat demi kemenangan) disebut sebagai manusia yang paling dibenci oleh Tuhan.
Dilansir dari akun Youtube Yufid Tv dalam Kajian Adab dan Akhlak, seperti yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A., menegaskan bahwa debat terbagi dua: yang terpuji (untuk mencari kebenaran, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim) dan yang tercela (debat kusir).
Kajian tersebut membahas Hadis No. 78 dari Kitab Bulughul Maram yang menyatakan bahwa "Manusia yang paling dibenci oleh Allah adalah al-aladdul khasim (orang yang keras kepala dan suka berdebat/berbantah-bantahan)"
Inilah analisis mendalam tentang bahaya debat kusir, diperkuat dengan pandangan dari kacamata profesional yang mengamati dinamika sosial dan mental masyarakat.
Manusia yang Paling Dibenci oleh Allah Adalah Orang yang Keras Kepala dan Suka Berdebat.
Pasangan debat
- freepik.com
Dalam Al Quran dan hadis, ada dalil yang menyebutkan bahwa debat bisa menjadi tercela dan terpuji.
Bahkan hal ini sudah diatur dalam ada konflik dalil antara hadis yang melarang (mencela al-aladdul khasim) dan ayat Al-Qur'an yang menganjurkan (QS. An-Nahl: 125) bukanlah sebuah pertentangan hakiki (ta'arudh), melainkan sebuah mekanisme penyempurnaan makna (takamul). Para ulama ushul fiqh memahami bahwa dalil-dalil ini mengatur dua jenis perdebatan yang berbeda berdasarkan motivasi, niat, dan caranya.
1. Perdebatan yang Tercela (Al-Jidal Al-Mazmum)
Berdebat dengan pasangan
- https://www.freepik.com/
Perdebatan yang tercela adalah yang mengarah pada sifat al-aladdul khasim orang yang keras kepala, suka membantah, dan melampaui batas.
Identifikasi dan Dalil Pelarangan.
Sifat Inti: Berakar pada kesombongan (kibr), di mana seseorang menolak kebenaran (bathar al-haqq) dan meremehkan orang lain. Tujuannya bukan mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran dan kemenangan ego.
Hadis Kunci: Hadis yang menyebutkan bahwa "Manusia yang paling dibenci oleh Allah adalah al-aladdul khasim." Ini memberikan vonis moral tertinggi atas perilaku tersebut.
Jaminan Surga bagi yang Meninggalkan: Hadis tentang jaminan rumah di surga bagi yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar merujuk pada perdebatan tercela yang muncul dalam konteks perselisihan personal atau hal-hal yang tidak prinsipil. Meninggalkannya adalah bentuk kearifan (hilm) untuk menjaga persatuan (ukhuwah) dan menghindari permusuhan.
Karakteristik Niat yang tercela
Perdebatan tercela sering kali ditandai dengan beberapa kriteria berikut ini.
Niat Buruk: Berdebat untuk mengalahkan, mempermalukan, atau meremehkan lawan.
Keras Kepala: Menolak argumen yang valid dan mengalihkan pembicaraan (berkelit) ketika kebatilan mulai terungkap.
Memicu Konflik: Menghasilkan permusuhan, seperti yang sering terjadi dalam rumah tangga atau persahabatan.
2. Perdebatan yang Terpuji (Al-Jidal Al-Mahmud)
Mengurangi Perdebatan
- freepik.com
Perdebatan yang terpuji adalah perdebatan yang merupakan bagian dari dakwah dan upaya penegakan kebenaran.
Identifikasi dan Dalil Anjuran
Sifat Inti: Berlandaskan pada ilmu, kesabaran, dan adab. Tujuannya adalah menampakkan kebenaran kepada orang yang belum mengetahuinya atau membantah kerancuan (syubhat).
Ayat Kunci: Firman Allah dalam QS. An-Nahl: 125:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik (wajadilhum billati hiya ahsan)."
Penerapan: Ayat ini menempatkan perdebatan sebagai tahapan ketiga dan terakhir dalam metode dakwah, yang hanya digunakan ketika hikmah (argumen kuat) dan mau'izhah hasanah (nasihat baik) tidak cukup.