Jika Takdir Tidak Sesuai Harapan, Begini Penjelasan Ustadz Syafiq Riza Basalamah
- Youtube
Marah
Ini adalah level terendah. Ketika kita marah dan menyalahkan takdir, kita menunjukkan penolakan terhadap kehendak Tuhan. Ini adalah dosa, karena kita menolak hikmah di balik ketetapan-Nya.
Sabar
Ini adalah tingkatan wajib. Sabar bukan hanya menahan diri, tetapi harus memenuhi tiga syarat: ikhlas karena Allah, tidak mengeluh kepada orang lain, dan dilakukan sejak awal musibah menimpa.
Rida (Penerimaan)
Di atas sabar, ada tingkatan rida. Hati yang rida adalah hati yang damai. Meskipun tidak bahagia dengan takdir yang datang, ia menerima sepenuhnya karena tahu bahwa itu adalah ketetapan Allah yang Maha Bijaksana.
Syukur (Bersyukur)
Ini adalah tingkatan tertinggi. Orang yang bersyukur atas takdir yang tidak diinginkan adalah mereka yang melihat cobaan sebagai anugerah. Mereka yakin bahwa di balik setiap kesulitan, ada pelajaran berharga atau kebaikan yang lebih besar yang Allah siapkan untuk mereka.
Pada akhirnya, takdir sudah tertulis. Tugas kita bukan untuk mengubahnya, melainkan untuk menjalani setiap prosesnya dengan usaha dan iman. Ketika kita diberi kebaikan, kita bersyukur. Ketika diuji dengan kesulitan, kita bersabar dan percaya bahwa ada kebaikan yang menanti di baliknya.