6 Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Merusak Kualitas Sperma Pria

Makanan yang Memperkuat Sperma Pria Muda
Sumber :
  • freepik.com

Olret – Produksi sperma terjadi terus-menerus di testis dan mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Yang mengkhawatirkan, banyak pria mempertahankan kebiasaan buruk selama bertahun-tahun tanpa menyadari bahwa kebiasaan tersebut membahayakan kesehatan reproduksi mereka.

5 Gejala Gonore pada Pria: Ciri-ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Penurunan kesuburan pria semakin umum terjadi, terutama karena kebiasaan gaya hidup tidak sehat yang berdampak negatif pada kuantitas dan kualitas sperma.

Menurut ahli andrologi Dr. Nguyen Duy Khanh, kualitas sperma bergantung pada banyak faktor. Faktor masukan sangat penting. Misalnya, diet seimbang, istirahat teratur, dan gaya hidup yang tepat sangat penting untuk menjaga kualitas sperma yang sehat.

Cek Sekarang! 5 Ciri Ginjal Berfungsi Normal yang Wajib Diketahui Pria

Berikut adalah 6 kebiasaan yang memengaruhi sperma yang umum dilakukan oleh sebagian besar pria:

1. Memaparkan 'area genital' pada suhu yang terlalu tinggi

Waspada Seks Tidak Aman: Membedah Jalur Utama Penularan Gonore

Mematikan perangkat laptop

Photo :
  • Shutterstock

Anatomi pria unik; testis terletak di luar rongga perut, di dalam kulit skrotum. Lokasi ini membantu menjaga suhu testis sekitar 1 hingga 2 derajat Celcius lebih rendah dari suhu tubuh. Ini penting untuk produksi sperma yang normal dan sehat. Namun, beberapa kebiasaan gaya hidup secara tidak sengaja mengganggu mekanisme alami ini.

Pertama, kebiasaan mandi dengan air yang terlalu panas atau berendam di bak air panas, atau sauna yang terlalu lama. Ketika suhu skrotum meningkat, sel-sel germinal di testis rusak, mengurangi jumlah sperma yang diproduksi dan menyebabkan sperma bergerak lebih lambat.

Kedua, kebiasaan mengenakan pakaian dalam yang terlalu ketat, pas badan, atau terbuat dari bahan nilon yang tidak menyerap keringat. Ini menekan testis ke tubuh, meningkatkan suhu dan menghambat aliran darah ke organ reproduksi.

Selain itu, pekerja kantoran sering memiliki kebiasaan meletakkan laptop di pangkuan mereka saat bekerja. Panas yang dipancarkan dari komputer, dikombinasikan dengan posisi duduk dengan kaki tertutup, menyebabkan area genital menjadi panas dengan sangat cepat, yang secara langsung membahayakan kemampuan reproduksi.

2. Pola Makan Tidak Sehat dan Obesitas

Alkohol

Photo :
  • 24h.com.vn

Terdapat korelasi yang kuat antara lingkar pinggang dan kualitas sperma. Studi menunjukkan bahwa pria yang kelebihan berat badan dan obesitas cenderung memiliki jumlah sperma yang lebih rendah dan tingkat sperma abnormal yang lebih tinggi dibandingkan pria dengan berat badan normal.

Hal ini karena kelebihan jaringan lemak dalam tubuh pria mengubah hormon testosteron menjadi hormon estrogen. Ketidakseimbangan hormon ini menyebabkan testis berfungsi kurang efektif.

Selain berat badan, mengonsumsi terlalu banyak makanan olahan juga merupakan masalah utama. Daging asap, sosis, dan makanan cepat saji mengandung banyak pengawet dan lemak tidak sehat tetapi miskin mikronutrien.

Sperma membutuhkan banyak vitamin dan mineral seperti seng, selenium, vitamin C dan E untuk mengembangkan membran pelindungnya secara penuh. Tanpa antioksidan ini, sperma mudah diserang oleh radikal bebas, menyebabkan kerusakan pada struktur DNA-nya.

3. Merokok dan Konsumsi Alkohol Berlebihan Mempengaruhi Kualitas Sperma

Penyakit Mematikan Akibat Merokok

Photo :
  • shutterstock

Alkohol dan tembakau adalah dua musuh terbesar kesehatan reproduksi, namun keduanya merupakan kebiasaan yang sulit dihentikan bagi banyak pria. Pria yang merokok secara teratur seringkali memiliki jumlah sperma yang rendah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tembakau meningkatkan tingkat sperma abnormal secara morfologis dan mengurangi motilitas, sehingga mempersulit pembuahan.

Mengenai alkohol, penyalahgunaan alkohol menghambat sistem saraf pusat dan hati. Ketika fungsi hati terganggu karena alkohol, kadar testosteron dalam darah menurun. Konsumsi alkohol yang berkepanjangan juga dapat menyebabkan atrofi testis dan disfungsi ereksi.

4. Stres Berkepanjangan dan Begadang

stress

Photo :
  • https://pixabay.com/photos/man-training-lazy-tired-fitness-5530768/

Dalam masyarakat modern, tekanan pekerjaan dan keuangan seringkali menyebabkan pria mengalami stres. Saat stres, tubuh melepaskan hormon yang disebut kortisol untuk membantu mengatasi tekanan tersebut.

Namun, kortisol dan testosteron adalah dua hormon yang berlawanan. Ketika kadar kortisol meningkat, kadar testosteron menurun. Jika stres berlanjut, produksi sperma akan terganggu atau terhenti.

Kebiasaan begadang, kurang tidur, atau kualitas tidur yang buruk juga secara signifikan mengurangi kadar hormon, yang menyebabkan penurunan libido dan kualitas sperma pada hari berikutnya.

5. Menyimpan ponsel di saku depan

Ponsel Lipat Paling Murah

Photo :
  • Youtube

Meskipun masalah ini masih diperdebatkan, ada semakin banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa gelombang elektromagnetik dan panas dari ponsel dapat berdampak negatif pada produksi sperma.

Kebiasaan menyimpan ponsel di saku depan menempatkan perangkat sangat dekat dengan testis. Saat ponsel aktif, terhubung ke jaringan, atau menerima panggilan, ponsel memancarkan radiasi panas dan gelombang elektromagnetik. Paparan jarak dekat yang berkepanjangan dapat berkontribusi pada penurunan motilitas dan vitalitas sperma.

6. Kurang berolahraga

Tips olahraga saat puasa

Photo :
  • freepik

Gaya hidup yang kurang aktif, duduk dalam waktu lama, juga berbahaya. Duduk terlalu lama menekan panggul dan alat kelamin, mengurangi aliran darah dan mencegah testis menerima cukup oksigen dan nutrisi yang diperlukan untuk berfungsi.

Kabar baiknya bagi pria adalah produksi sperma terjadi terus menerus dalam siklus sekitar 72-75 hari. Ini berarti kualitas sperma bukanlah faktor tetap. Jika Anda mengubah gaya hidup mulai hari ini, berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol, mengonsumsi makanan sehat, dan menjaga area genital tetap bersih dan kering, kualitas sperma dapat meningkat secara signifikan setelah sekitar 3 bulan.