Lebih dari Sekadar Sepi: Menguak Sisi Psikologis yang Terbentuk Saat Kamu Lajang Bertahun-tahun

Jangan sepelakan jomblo
Sumber :
  • instagram

Olret – Alyssa Yeo, 36, tidak mengerti mengapa, meskipun lucu, bijaksana, dan bersemangat tentang perjalanan, ia tetap lajang.

Mahalnya Menjadi Lajang: Mitos atau Fakta?

Selain hubungan serius di usia 20-an, Alyssa Yeo belum menemukan orang lain. Ia pernah naksir dan berkencan, tetapi hubungan itu singkat dan tidak pernah berkembang menjadi cinta.

Alyssa Yeo beralih ke aplikasi kencan, setuju untuk bertemu orang-orang yang dikenalkan oleh teman-teman, tetapi tetap tanpa hasil.

Kenapa Pertanyaan Lebaran Bisa Bikin Stres? Ini Penjelasannya

"Saya telah berusaha keras untuk terbuka, sabar, dan memperbaiki diri selama bertahun-tahun," kata Yeo. Ia hidup mandiri dan berupaya membangun kehidupan yang dapat ia banggakan.

Sementara itu, teman-teman menyarankan Yeo untuk menikmati kebebasannya, karena ia tidak perlu khawatir tentang anak-anak, popok, konflik emosional, atau masalah dengan keluarga suaminya.

Migrain: Pencuri Produktivitas dan Alasan Utama Cuti Kerja

Jomblo Bukan Berarti Belum Bisa Move

Photo :
  • instagram

"Bukannya aku tidak bisa hidup sendiri, tapi aku sangat kesepian," katanya. "Sulit untuk menghindari perasaan tertinggal ketika teman-teman sudah bertunangan, menikah, dan memiliki anak. Itulah yang kuimpikan."

Yeo termasuk di antara semakin banyak orang yang "selamanya lajang" di Singapura. Sebuah survei tahun 2024 oleh Singapore Institute of Policy Research menemukan bahwa sekitar 60% anak muda berusia 21-34 tahun merasa kesepian dan terputus secara sosial, dengan sebagian besar tidak memiliki hubungan romantis. Sekitar 15% mengaku tidak memiliki siapa pun untuk tempat curhat ketika menghadapi kesulitan.

Sebuah studi tahun 2022 oleh Universitas Nasional Singapura menemukan bahwa sepertiga wanita berusia 25-35 tahun memilih untuk tetap melajang dalam jangka panjang karena kemandirian finansial dan keinginan akan kebebasan pribadi.

Para ahli berpendapat bahwa status lajang yang berkepanjangan, terutama jika tidak diinginkan, dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, menyebabkan kecemasan, penurunan harga diri, dan perasaan malu.

Dr. Roy Chan, seorang psikolog klinis dan pendiri Klinik Cloaks and Mirrors (Singapura), menyatakan bahwa kecemasan muncul dari keinginan untuk memiliki pasangan dan meningkat ketika upaya untuk menemukannya berulang kali gagal. Tekanan akan semakin besar jika individu menetapkan tenggat waktu untuk menemukan cinta.

Ia menjelaskan bahwa rendahnya harga diri seringkali muncul dari membandingkan diri dengan pasangan romantis dan merasa kurang menarik, bahkan dalam beberapa kasus percaya bahwa seseorang "tidak pantas dicintai."

Iya Alhamdulillah Masih Jomblo

Photo :
  • -

Rasa malu, katanya, berkembang ketika orang menginternalisasi ekspektasi masyarakat, percaya bahwa mereka kekurangan kualitas yang akan membuat orang lain ingin bersama mereka.

James Chong, direktur klinis pusat konseling dan terapi The Lion Mind, mengatakan bahwa perbandingan seringkali diperkuat oleh media sosial, di mana gambar-gambar hubungan sempurna yang telah dikurasi dapat mendistorsi persepsi tentang realitas.

Di tempat kerja, rekan kerja yang sudah menikah sering kali mendapatkan perlakuan istimewa terkait liburan atau menikmati hak istimewa tak tertulis yang hanya diperuntukkan bagi orang yang sudah menikah.

"Oleh karena itu, orang lajang merasa bahwa mereka hanya lengkap ketika berada dalam hubungan romantis," katanya.

Bahkan individu yang percaya diri pun dapat merasa tidak nyaman ketika teman dekat mulai lebih fokus pada pasangan atau keluarga mereka, dan jarak yang semakin jauh dapat memicu perasaan ditinggalkan atau "tertinggal," yang meningkatkan kesulitan. Bahkan kerabat yang lebih tua mungkin mendesak mereka untuk menikah.

"Kesalahpahaman umum adalah bahwa introvert secara alami lebih baik dalam hidup sendiri," kata Chong. Meskipun introvert mungkin memiliki interaksi sosial yang lebih sedikit, mereka tetap membutuhkan koneksi yang bermakna.

Cara Menjadi Jomblo yang Bahagia

Photo :
  • pixabay.com/id/users/caihuuthanh

Psikoterapis Jeannette Qhek, pendiri ruang kesehatan Chill by Nette, mengatakan bahwa status lajang perlu dilihat dari perspektif psikologis yang lebih luas, sebagai tahap perkembangan yang bermakna daripada kekosongan.

Ia merujuk pada hierarki kebutuhan Maslow, yang menyusun kebutuhan manusia dalam bentuk piramida, dari kebutuhan dasar untuk bertahan hidup seperti makanan dan keamanan hingga kebutuhan yang lebih tinggi seperti cinta, harga diri, dan gaya hidup pribadi.

Oleh karena itu, orang harus memenuhi kebutuhan dasar sebelum fokus pada tujuan emosional dan psikologis yang lebih kompleks, dengan cinta romantis hanya sebagai bagian dari kebutuhan akan koneksi dan keintiman.

"Menjadi lajang bukanlah jeda sementara, melainkan waktu untuk membentuk diri dan menjadi orang yang Anda inginkan," katanya.

Para psikolog menyarankan untuk memulai dengan hal-hal sederhana seperti pergi minum kopi, menonton film, atau berlibur singkat sendirian, tanpa perlu mengatur jadwal dengan siapa pun.

Bahagia Meski Jomblo

Photo :
  • U-Repot

Di sisi lain, masyarakat seharusnya memandang status lajang sebagai periode penemuan diri dan pertumbuhan, bukan sebagai tanda kekurangan emosional. Jeannette Qhek menyarankan agar orang lajang dapat bergabung dengan kelompok keagamaan atau klub hobi untuk menciptakan rasa kebersamaan dan tujuan bersama.

"Harga diri Anda seharusnya didasarkan pada siapa diri Anda, bukan pada apakah seseorang mencintai Anda atau tidak," tegasnya.

Sumber artikel : CNA