Capek Kerja Tapi Takut Resign, Ini yang Sebenarnya Terjadi

Alasan resign pekerjaan
Sumber :
  • freepik.com

Olret – Setiap pagi alarm berbunyi, tapi rasanya bukan cuma badan yang berat hati juga ikut lelah. Meeting terasa seperti beban, chat dari atasan bikin tegang, dan Senin jadi hari paling menakutkan dalam seminggu. Kamu capek. Sangat capek.

Bakal ke London? Ini Panduan Lengkap Visa UK 2026 yang Wajib Kamu Baca

Tapi begitu muncul pikiran untuk resign, langsung muncul rasa takut. Takut nggak dapat kerja lagi. Takut keuangan goyah. Takut dianggap nggak tangguh. Akhirnya kamu bertahan, sambil terus bertanya dalam hati, “Sebenarnya aku kenapa sih?”

Jawabannya nggak sesederhana kamu malas atau nggak bersyukur. Ada proses psikologis yang sedang terjadi.

7 Alasan Resign yang Langsung di ACC Oleh HRD,

Otak Lebih Memilih Aman daripada Bahagia

Secara naluriah, manusia lebih takut kehilangan sesuatu yang sudah dimiliki dibanding mencoba sesuatu yang belum pasti. Gaji bulanan, meski terasa “dibayar dengan stres”, tetap memberi rasa aman.

2 Kebiasaan Kerja yang Tampaknya Tidak Efektif Tapi Dicintai Otak

Dalam dunia psikologi perilaku, kecenderungan ini sering dikaitkan dengan konsep loss aversion. Kita lebih fokus pada potensi kerugian daripada kemungkinan keuntungan. Resign terasa seperti kehilangan kepastian, sementara bertahan terasa seperti menahan rasa tidak nyaman yang sudah dikenal.

Akhirnya kamu memilih bertahan, bukan karena bahagia, tapi karena takut.

Tekanan Finansial yang Tidak Bisa Diabaikan

Banyak orang usia produktif bukan hanya bekerja untuk diri sendiri. Ada cicilan, biaya sekolah anak, kebutuhan orang tua, bahkan tanggung jawab sebagai sandwich generation.

Menurut Badan Pusat Statistik, kelompok usia produktif menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Artinya, keputusan resign bukan sekadar keputusan personal, tetapi juga menyangkut stabilitas banyak orang.

Wajar kalau kamu berpikir panjang. Ini bukan drama, ini realita.

Bisa Jadi Kamu Lagi Burnout

Kalau rasa lelah itu sudah berubah jadi kehilangan semangat, mudah emosi, sulit fokus, bahkan merasa hampa terhadap pekerjaan, bisa jadi kamu sedang mengalami burnout.

World Health Organization mendefinisikan burnout sebagai sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. Ini bukan cuma butuh liburan dua hari. Ini sinyal bahwa tubuh dan mentalmu sudah terlalu lama dipaksa bertahan.

Burnout sering membuat kita ingin kabur. Tapi di saat yang sama, kita juga takut mengambil keputusan besar saat kondisi mental sedang tidak stabil.

Halaman Selanjutnya
img_title