Anak Enggan Menikah? Panduan Komunikasi Empatis Agar Hubungan Tetap Harmonis
- google image
Olret – Ketika anak-anak menyatakan bahwa mereka tidak ingin menikah atau memiliki anak, alih-alih mengkritik, orang tua dapat menggunakan pertanyaan terbuka untuk mendorong refleksi.
Saat ini, tren "keengganan untuk menikah dan memiliki anak" semakin umum. Di balik pernyataan kaum muda yang ingin tetap melajang seringkali terdapat kekhawatiran tentang tekanan ekonomi, rasa takut akan tanggung jawab, rasa takut akan sakit hati, atau kenangan buruk tentang hubungan masa lalu yang gagal.
Jika suatu hari anak Anda berkata, "Saya tidak ingin menikah dan memiliki anak," orang tua tidak boleh langsung membantah mereka. Dilansir dari media vietnam vnexpress, Psikolog Hoang Hai Van (Hanoi) menyarankan empat pendekatan terampil untuk membantu kaum muda memahami realitas dengan lebih jelas.
Tanyakan pada Anak Anda tentang Dukungan di Usia Tua
Anak-anak dan orang tua berlibur di Perpustakaan Nasional
- OLRET VIVA - Yos Mo
Gambaran kesepian seringkali paling terlihat ketika seseorang mencapai usia senja dan kesehatannya menurun. Para ahli mengutip kasus Bapak Minh (68 tahun), yang tinggal di panti jompo di Hanoi setelah lumpuh dari pinggang ke bawah.
Orang tuanya telah meninggal, dan saudara-saudaranya telah berkeluarga, sehingga hanya sedikit orang yang mengunjunginya. Kesepiannya membuatnya sering berkata kepada pengunjung muda: "Saya menyesal takut berkomitmen ketika masih muda. Sekarang saya bahkan tidak tahan mendengar seseorang memanggil saya 'ayah'."
Dari kenyataan ini, orang tua dapat mengatakan kepada anak-anak mereka:
"Kami tidak memaksa kalian menikah karena harga diri, tetapi demi kebahagiaan kalian. Jika suatu hari nanti kami tidak ada lagi, ketika kalian sakit atau menghadapi kesulitan, siapa yang akan merawat kalian tanpa syarat?"
Nasihati anak Anda agar tidak menolak cinta karena takut patah hati
nasihat orang tua
- shutterstock
Penelitian psikologis menunjukkan bahwa menyaksikan perceraian orang tua dapat menyebabkan anak-anak mengembangkan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) atau takut menikah (Gamophobia). Untuk melindungi diri mereka sendiri, kelompok ini sering memilih untuk tetap melajang untuk menjauhkan diri dari risiko.
Setelah mengalami kekerasan yang dilakukan ayahnya terhadap ibunya semasa kecil, Mai (30 tahun, seniman) tidak ingin menikah. Namun, ketika teman-temannya menikah satu demi satu, ia merasa kesepian.