Mahalnya Menjadi Lajang: Mitos atau Fakta?

Zodiak yang Lebih Suka Melajang
Sumber :
  • freepik.com/author/jcomp

Olret – Tian Yuan tinggal sendirian di Guangzhou selama delapan tahun, cukup lama untuk memahami bahwa kesunyian di apartemennya yang memiliki tiga kamar tidur terkadang bisa lebih menakutkan daripada suara apa pun.

5 Negara yang Direstui Iran Lewati Selat Hormuz, Adakah Indonesia?

Di balik penampilan mandiri seorang eksekutif periklanan berusia 30 tahun, terdapat malam-malam penuh krisis emosional yang tak terduga.

"Aku merasa seperti satu-satunya orang yang tersisa di alam semesta," kenang Tian tentang suatu waktu ketika ia duduk menangis selama dua jam di sofa, hanya ditemani kucingnya, Dobby.

Bukan Cuma Setan Merah, Bryan Mbeumo Jadi Rebutan Panas Raksasa Premier League

"Ketika kau sendirian, emosimu sepenuhnya bergantung padamu. Tidak ada apa pun dari luar yang dapat menghentikan atau menahannya," katanya.

Kesepian

Photo :
  • instagram

Hindari Konflik Timur Tengah, 3 Kapal Putuskan Pindah Bendera ke Vietnam

Namun Tian tahu dia tidak sendirian. Di kota-kota besar Tiongkok yang ramai, jutaan anak muda seperti dia terseret dalam ledakan "rumah tangga satu orang" alias lajang. Menurut statistik pemerintah, rumah tangga satu orang sekarang mencapai sekitar 20%, peningkatan tajam dari kurang dari 3% pada tahun 2000. Institut Penelitian Beike memperkirakan bahwa pada tahun 2030, angka ini bisa mencapai 200 juta.

Xiao Hui, 26 tahun, seorang guru SMA yang pindah ke Guangzhou untuk magang pada November 2025, memilih untuk hidup sendiri karena ingin terbebas dari kendali. "Tidak ada yang ikut campur dalam hidupmu," katanya.

Namun kebebasan selalu datang dengan harga yang harus dibayar.

trend melajang anak muda

Photo :
  • freepik.com

Saat masa magangnya hampir berakhir, tekanan masa depan semakin meningkat, dan Xiao Hui mulai mengalami mimpi buruk tentang penyusup. Di kota asing, tanpa teman dekat, segalanya menjadi "sangat sulit."

Dia menyadari bahwa dia paling rentan ketika sakit. "Bahkan menuangkan segelas air pun menjadi tantangan ketika kamu sakit dan sendirian," katanya. Ketakutan akan "kematian kesepian" begitu besar sehingga aplikasi yang memeriksa status keselamatan harian, seperti Are You Dead?, menjadi fenomena.

Menjelaskan alasannya, Profesor Jean Yeung Wei-Jun dari Universitas Nasional Singapura menunjuk pada tiga faktor pendorong: dampak yang masih terasa dari kebijakan satu anak, yang membuat kaum muda tidak memiliki hubungan dekat dengan saudara kandung; urbanisasi yang menyebabkan pernikahan di usia yang lebih tua; dan kemudahan layanan berbasis rumah.

Halaman Selanjutnya
img_title