Overthinking di Malam Hari, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Olret – Siang hari kamu terlihat baik-baik saja. Bisa kerja, ngobrol, ngurus rumah, bahkan ketawa bareng teman. Tapi begitu malam datang dan lampu kamar dimatikan, pikiran mendadak jadi “ramai”.
Ingat kesalahan lama. Kepikiran omongan orang. Takut masa depan nggak sesuai rencana. Bahkan hal kecil seperti chat yang belum dibalas bisa terasa besar.
Akhirnya badan capek, tapi otak menolak istirahat.
Kalau kamu sering mengalaminya, kamu nggak aneh. Ada alasan psikologis dan biologis di balik fenomena overthinking tengah malam ini.
Malam Hari Adalah Waktu Otak Mengevaluasi
Sepanjang hari, otak sibuk menerima distraksi. Pekerjaan, notifikasi, suara, aktivitas fisik. Ketika malam tiba dan semua sunyi, otak masuk ke mode refleksi.
Menurut penjelasan dari American Psychological Association, overthinking sering berkaitan dengan pola pikir ruminatif, yaitu kecenderungan memutar ulang masalah tanpa benar-benar bergerak ke solusi. Pikiran terasa aktif, tapi sebenarnya hanya berputar di lingkaran yang sama.
Sunyi membuat pikiran yang tertunda akhirnya muncul ke permukaan.
Tubuh Lelah, Emosi Justru Lebih Sensitif
Menariknya, kemampuan logika kita cenderung menurun saat malam. Tubuh sudah lelah, energi mental menipis, sehingga hal kecil bisa terasa jauh lebih besar.
Masalah yang siang tadi terasa biasa saja, malam hari berubah jadi ancaman besar. Ketakutan jadi lebih dramatis. Skenario buruk terasa sangat nyata.
Itulah kenapa keputusan yang terasa “paling masuk akal” jam 1 pagi sering terdengar berlebihan saat dibaca ulang keesokan paginya.
Kecemasan dan Kurang Tidur Saling Memperparah
Overthinking membuat sulit tidur. Kurang tidur membuat kecemasan makin tinggi. Siklusnya berulang.
World Health Organization menekankan pentingnya tidur berkualitas untuk menjaga keseimbangan emosi dan fungsi kognitif. Ketika tidur terganggu, kemampuan mengelola stres ikut menurun.
Artinya, masalahnya bukan cuma pikiran, tapi juga ritme biologis tubuh.
Kenapa Rasanya Sulit Dihentikan?
Karena overthinking sering menyamar sebagai “usaha mencari solusi”. Kamu merasa sedang menganalisis supaya tidak salah langkah. Padahal tanpa tindakan nyata, itu hanya memperpanjang kecemasan.
Otak mengira kamu sedang produktif. Padahal yang terjadi hanyalah pengulangan.
Dan semakin kamu mencoba memaksa berhenti berpikir, semakin keras pikiran itu muncul.
Cara Mengatasi Overthinking
Mengatasi overthinking bukan soal menghentikan pikiran, tapi mengarahkannya.
1. Pindahkan Waktu Berpikir ke Siang Hari
Luangkan waktu khusus untuk memikirkan masalah dan menuliskan kemungkinan solusi. Dengan begitu, otak tidak perlu “mencuri waktu” di malam hari.
2. Lakukan Brain Dump Sebelum Tidur
Tulis semua isi kepala tanpa disaring. To-do list, rasa takut, kekhawatiran. Saat ditulis, beban mental berkurang karena tidak lagi disimpan di memori kerja.
3. Ciptakan Ritual Sebelum Tidur yang Konsisten
Kurangi cahaya layar, atur napas perlahan, atau dengarkan audio yang menenangkan. Sinyal konsisten ini membantu tubuh memahami bahwa waktunya istirahat.
4. Ubah Cara Bicara ke Diri Sendiri
Saat pikiran mulai dramatis, coba tanya “Apakah ini fakta atau hanya kemungkinan?” Pertanyaan sederhana ini membantu otak kembali rasional.
Tidak Semua Pikiran Harus Dipercaya
Pikiran tengah malam sering kali lebih gelap dari kenyataan. Ia membesar karena suasana sunyi dan tubuh yang lelah.
Overthinking bukan berarti kamu lemah. Biasanya justru dialami orang yang peduli, perfeksionis, atau punya tanggung jawab besar. Tapi peduli bukan berarti harus mengorbankan kualitas tidur setiap malam.
Belajar mengelola pikiran adalah proses. Pelan-pelan, konsisten, tanpa menyalahkan diri sendiri.
Karena istirahat yang cukup bukan kemewahan. Itu kebutuhan. Dan kamu berhak tidur dengan tenang, tanpa harus bertarung dengan isi kepala sendiri.