Mengapa Wanita Bisa Merasa Lebih Kalem Saat Menstruasi?
- https://www.freepik.com/
Olret – Selama ini menstruasi sering dikaitkan dengan emosi naik-turun, sensitif, atau mudah marah. Tapi tidak semua wanita mengalaminya seperti itu. Ada juga yang justru merasa lebih tenang, lebih kalem, bahkan lebih “slow” saat sedang haid.
Fenomena ini bukan sugesti. Ada penjelasan biologis dan psikologis di baliknya. Siklus menstruasi bukan cuma urusan fisik, tapi juga melibatkan hormon dan cara kerja otak.
Yuk, kita bahas dari sisi ilmiahnya.
1. Fase PMS Sudah Lewat, Tubuh Masuk Mode Stabil
Sebelum menstruasi datang (fase luteal akhir), hormon estrogen dan progesteron biasanya berada pada level tinggi lalu turun drastis. Fluktuasi inilah yang sering memicu PMS: mudah tersinggung, overthinking, atau lebih sensitif.
Begitu menstruasi dimulai, hormon memang sedang rendah, tapi relatif lebih stabil dibanding fase sebelumnya. Menurut penjelasan dari Mayo Clinic, perubahan kadar estrogen berpengaruh pada serotonin, zat kimia otak yang mengatur suasana hati.
Saat fase PMS terlewati, sebagian wanita justru merasa “lega”. Ketegangan emosional yang sebelumnya menumpuk perlahan mereda. Hasilnya? Perasaan jadi lebih kalem.
2. Energi Turun, Ritme Hidup Ikut Melambat
Menstruasi adalah proses biologis yang membutuhkan energi. Tubuh sedang meluruhkan lapisan rahim, dan itu bukan proses ringan. Wajar kalau kamu merasa lebih ingin istirahat.
Menariknya, saat energi fisik menurun, ambisi untuk multitasking atau over-productive juga ikut menurun. Otak tidak terlalu “ngebut”. Ritme yang melambat ini sering membuat pikiran terasa lebih tenang dan tidak seagresif biasanya.
Bukan karena lemah, tapi karena tubuh memang sedang berada dalam mode konservasi energi.
3. Sistem Saraf Lebih Sensitif pada Kebutuhan Istirahat
Saat haid, tubuh cenderung lebih peka terhadap rasa tidak nyaman. Respons alami dari sistem saraf adalah mencari rasa aman dan nyaman. Ini berkaitan dengan regulasi hormon dan respons stres.
Beberapa literatur kesehatan menyebutkan bahwa dinamika hormon selama siklus menstruasi memengaruhi aktivitas sistem limbik (bagian otak yang mengatur emosi). Informasi dari Cleveland Clinic menjelaskan bahwa fluktuasi hormon memang dapat memengaruhi cara otak memproses emosi.
Pada sebagian wanita, hal ini membuat mereka lebih introspektif dan tidak terlalu reaktif.
4. Lebih Introspektif, Lebih Reflektif
Ada teori yang menyebutkan bahwa fase menstruasi adalah fase refleksi dalam siklus bulanan perempuan. Secara alami, fokus cenderung beralih dari dunia luar ke dalam diri.
Itulah kenapa banyak wanita merasa:
- Lebih suka menyendiri
- Lebih ingin me time
- Tidak terlalu ambisius
- Lebih menerima keadaan
Ketika tekanan eksternal tidak terlalu dikejar, emosi pun terasa lebih stabil.
5. Setiap Wanita Punya Respons Berbeda
Penting dipahami bahwa tidak ada satu pola emosi yang sama untuk semua wanita. Faktor seperti kualitas tidur, tingkat stres, pola makan, aktivitas fisik, dan kondisi hormonal masing-masing sangat berpengaruh.
Menurut World Health Organization, variasi respons tubuh terhadap siklus menstruasi adalah hal yang normal dan dipengaruhi banyak faktor biologis serta lingkungan.
Jadi kalau kamu merasa lebih kalem saat haid, itu bukan aneh. Itu variasi alami.
Menstruasi bukan hanya peristiwa fisik, tetapi juga perubahan ritme biologis dan emosional. Pada sebagian wanita, fase ini justru menjadi momen tubuh melambat, hormon lebih stabil setelah PMS, dan pikiran lebih reflektif. Kombinasi inilah yang bisa membuat perasaan terasa lebih tenang.
Daripada melihat menstruasi sebagai “masa drama hormon”, mungkin kita bisa mulai melihatnya sebagai fase reset. Fase di mana tubuh memberi sinyal untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri.
Karena menjadi lebih kalem saat haid bukan kelemahan bagi wanita itu sendiri. Karena itulah cara tubuh menjaga keseimbangan.