Mengapa Gangguan Pada Penderita ADHD Merangsang Pemikiran Inovatif?
Olret – Mengapa orang dengan ADHD lebih kreatif dalam memecahkan masalah? Jelajahi paradoks antara gangguan dan ide-ide terobosan berdasarkan penelitian psikologis terbaru.
Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa ciri-ciri kognitif yang terkait dengan Gangguan Defisit Perhatian Hiperaktif (ADHD) mungkin menawarkan keuntungan khusus dalam cara individu mendekati pemecahan masalah secara kreatif.
Para psikolog menemukan bahwa orang dengan gejala ADHD yang menonjol cenderung mencapai solusi melalui ide-ide inovatif daripada mengandalkan metode analitis langkah demi langkah.
Cara berpikir ini melewati logika sadar untuk langsung menuju solusi. Hasil penelitian telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Personality and Individual Differences.
Mekanisme di Balik 'Filter Kebocoran Perhatian'
Bisa Berpikir Positif
- u-report
ADHD umumnya dikenal sebagai kondisi yang ditandai dengan kesulitan mempertahankan fokus, perilaku impulsif, dan hiperaktivitas. Gejala-gejala ini sering dilihat dari perspektif gangguan fungsi eksekutif.
Fungsi eksekutif bertindak sebagai sistem manajemen untuk otak, mirip dengan pengontrol lalu lintas udara, mengarahkan perhatian, menyaring gangguan, dan menjaga proses berpikir tetap teratur.
Ketika sistem ini bekerja secara efektif, seseorang dapat fokus pada tugas tertentu dan menyaring informasi yang tidak relevan. Namun, para peneliti dari Universitas Drexel dan Universitas Northwestern telah lama berhipotesis bahwa filter perhatian yang "bocor" mungkin memiliki keuntungan.
Jika otak tidak sepenuhnya menyaring informasi yang berlebihan, secara tidak sengaja ia membiarkan ide dan asosiasi "aneh" muncul dalam persepsi. Jaringan asosiasi yang luas ini membantu seseorang menghubungkan konsep-konsep yang tampaknya tidak terkait.
Penelitian tentang Gaya Pemecahan Masalah Manusia
Ilustrasi berpikir
- https://www.pexels.com/@koolshooters
Untuk menguji teori ini, tim peneliti yang dipimpin oleh Hannah Maisano dan Christine Chesebrough merancang sebuah eksperimen untuk mengukur gaya pemecahan masalah.
Mereka melakukan studi daring yang melibatkan 299 mahasiswa universitas. Tim peneliti tidak membatasi peserta hanya pada mereka yang memiliki diagnosis ADHD formal. Sebaliknya, tim meminta semua peserta untuk mengisi Skala Laporan Diri ADHD Dewasa (ASRS).
Ini adalah kuesioner standar yang dirancang untuk menentukan frekuensi dan tingkat keparahan perilaku seperti kurang perhatian atau hiperaktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini memungkinkan para profesional untuk mengamati secara cermat dampak ciri-ciri ADHD di semua tingkatan, dari manifestasi ringan hingga gejala yang paling menonjol.