5 Kebiasaan Malam Hari yang Meningkatkan Risiko Stroke Saat Tidur

Kebiasaan Malam Hari yang Meningkatkan Risiko Stroke Saat Tidur
Sumber :
  • Gemini Ai

Olret – Aktivitas yang tampaknya tidak berbahaya seperti mandi larut malam, minum alkohol, atau makan larut malam dapat mengganggu tekanan darah dan pembuluh darah, yang menyebabkan stroke saat tidur.

Stroke saat tidur terjadi ketika seseorang tidur normal tetapi terbangun dengan kerusakan neurologis. Dilansir dari media vietnam 24h.com.vn, Menurut Dr. Nguyen Phuong Trang, seorang spesialis Neurologi di Rumah Sakit Umum Tam Anh di Kota Ho Chi Minh, ini adalah jenis stroke yang paling mudah terlewatkan karena gejalanya seringkali tidak terdeteksi. Pada saat terdeteksi, banyak kasus telah melewati "waktu emas" untuk intervensi dalam 3-4,5 jam pertama, sehingga secara signifikan mengurangi peluang pemulihan.

Lampu Kuning di Ranjang: Kenali Gejala Awal Disfungsi Ereksi Bagi Pria

Para dokter mengatakan bahwa malam hari adalah waktu tubuh membutuhkan istirahat, dan tekanan darah serta detak jantung cenderung menurun untuk memungkinkan otak pulih.

Namun, beberapa kebiasaan gaya hidup umum menyebabkan pembuluh darah dan tekanan darah berfluktuasi secara signifikan, menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya stroke saat tidur.

Simfoni Rasa di Bawah Langit Lembah Daun Riverside Bogor

1. Mandi di malam hari

Mandi larut malam, terutama dengan air dingin, adalah faktor risiko yang sering diabaikan. Ketika suhu tubuh berubah tiba-tiba, pembuluh darah perifer menyempit, dan tekanan darah dapat melonjak.

Mengapa Serangan Jantung Lebih Berbahaya Jika Terjadi di Siang Hari?

Bagi individu dengan pembuluh darah lemah, hipertensi, atau aterosklerosis, vasokonstriksi ini dapat dengan mudah menyebabkan pembentukan bekuan darah atau pecahnya pembuluh darah di otak. Kebiasaan mandi larut malam saat cuaca dingin atau perubahan musim semakin meningkatkan risiko ini.

2 Mengonsumsi Alkohol 

Alkohol

Photo :
  • 24h.com.vn

Mengonsumsi alkohol di malam hari juga secara langsung memengaruhi sistem kardiovaskular dan otak. Alkohol tidak hanya mengganggu tidur tetapi juga merusak endotel pembuluh darah, sehingga memicu aterosklerosis.

Setelah minum, tekanan darah dapat meningkat, terutama di malam hari – waktu di mana tekanan darah seharusnya stabil. Tekanan yang berkepanjangan pada pembuluh darah di otak secara diam-diam meningkatkan risiko stroke.

3. Penggunaan telepon, komputer, atau televisi terlalu lama

Penggunaan telepon, komputer, atau televisi terlalu lama sebelum tidur menyulitkan otak untuk memasuki kondisi istirahat.

Cahaya biru menghambat produksi melatonin—hormon yang mengatur tidur—meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, yang menyebabkan kualitas tidur yang buruk. Ketika otak tidak sepenuhnya pulih, kemampuannya untuk beradaptasi dan melindungi pembuluh darah juga terganggu.

4. Makan Larut Malam

Makan larut malam, terutama makanan tinggi lemak jenuh seperti makanan gorengan, makanan cepat saji, atau minuman manis, mengganggu metabolisme dan meningkatkan kadar lipid darah.

Seiring waktu, kebiasaan ini berkontribusi pada kelebihan berat badan dan obesitas, merusak endotel vaskular, dan membentuk gumpalan darah, yang menyebabkan stroke akibat penyumbatan arteri serebral. Lemak jenuh juga meningkatkan kolesterol jahat (LDL), mempercepat perkembangan aterosklerosis.

5. Stres

Stres dan kecemasan yang berkepanjangan seringkali diabaikan sebagai faktor risiko yang berdampak signifikan pada sistem vaskular. Selama stres, tubuh terus menerus melepaskan kortisol dan adrenalin, menyebabkan peningkatan tekanan darah dan vasokonstriksi.

Jika ini terjadi secara sering, pembuluh darah otak lebih rentan terhadap kerusakan, terutama di malam hari ketika tekanan darah tidak terkontrol dengan baik.

Mengelola kondisi mendasar seperti hipertensi, diabetes, dan dislipidemia secara efektif sangat penting. Melakukan olahraga ringan sekitar 30 menit setiap hari, tidur 7-8 jam, dan menjaga tubuh tetap hangat di cuaca dingin membantu menstabilkan tekanan darah dan melindungi pembuluh darah otak.

Individu di atas 50 tahun atau mereka yang berisiko tinggi, seperti penderita penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes, kelebihan berat badan, atau kolesterol tinggi, harus menjalani pemeriksaan stroke secara teratur menggunakan teknik pencitraan modern seperti USG, CT multislice, atau MRI 3 Tesla untuk mendeteksi kerusakan pembuluh darah otak dini.

Mereka yang mendengkur keras atau diduga menderita apnea tidur harus diperiksa menggunakan polisomnografi untuk mendeteksi kekurangan oksigen nokturnal – faktor yang meningkatkan risiko stroke.

Jika saat bangun tidur muncul gejala seperti wajah terkulai, kelemahan atau kelumpuhan pada satu sisi tubuh, bicara cadel, atau perubahan kesadaran, segera hubungi layanan darurat. Sambil menunggu petugas medis, posisikan pasien miring dengan kepala sedikit terangkat 30–45 derajat untuk menjaga jalan napas tetap terbuka.

Jangan memberikan obat atau memindahkan pasien tanpa berkonsultasi dengan dokter. Deteksi dan pengobatan dini merupakan faktor penting dalam menentukan kelangsungan hidup dan pemulihan setelah stroke.