Ini Alasan Densu Tetap Beri Panggung untuk Sahara di Tengah Amukan Netizen

Denny Sumargo dan Olivia Allan
Sumber :
  • Instagram/sumargodenny

Olret –  Konflik antara Yai Mim dan Sahara yang kian memanas tak hanya menyedot perhatian publik, tetapi juga menyeret nama Denny Sumargo (Densu). Keputusan Densu untuk menayangkan wawancara dengan Sahara di kanal YouTube-nya memicu gelombang kritik hingga ancaman unfollow dari netizen yang sudah telanjur mendukung Yai Mim.

Isak Tangis di Balik Kamera: Ressa Ungkap Luka Lama dan Kekecewaan Terhadap Keluarga Denada

Namun, alih-alih menarik video atau tunduk pada tekanan, Densu justru memberikan respons yang tegas dan berlandaskan pada etika jurnalistik, sebuah pelajaran penting tentang integritas media.

Sikap Netral Media: Hak Jawab untuk Kedua Sisi

Menjelajahi Kelezatan Ayam Masak Kecap ala Steak: Sensasi Gurih-Manis yang Menggoda Selera

Menanggapi keresahan massal netizen, Densu menjelaskan bahwa posisinya sebagai kreator konten yang menjalankan fungsi media adalah untuk netral. Ia menegaskan bahwa ia tidak bisa berpihak ke salah satu kubu—baik yang didukung maupun yang tidak didukung oleh publik.

"Saya ini kan posisi media. Saya itu tidak ada kepentingan berpihak ke kiri atau ke kanan," ujar Densu.

Ulama dan Kekuasaan di Indonesia: Etika Istana, Otoritas Agama, dan Tantangan Negara Hukum Demokratis

Prinsip utamanya adalah memberikan hak jawab (right of reply) bagi kedua belah pihak. Dalam konteks ini, jika ia telah menayangkan satu sisi cerita, etika mewajibkannya untuk memberikan ruang yang sama kepada pihak lawan. Bagi Densu, mempertahankan integritas ini jauh lebih penting daripada popularitas atau jumlah follower.

"Saya harus berada di tengah dan memberikan hak jawab untuk dua belah pihak... Kalau kemudian itu membuat kalian ingin unfollow atau mungkin enggak suka sama saya, ya saya harus terima konsekuensi," tegasnya.

Ajakan Densu: Jangan Telan Informasi Mentah-mentah

Lebih dari sekadar membela diri, Densu memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan edukasi kritis kepada publik. Ia mengajak netizen untuk tidak langsung mengambil kesimpulan setelah mendengar informasi dari satu pihak.

Ia menekankan pentingnya kedewasaan dalam menyikapi masalah:

  1. Dengar Baik-Baik: Tahan diri saat mendengar info pertama.

  2. Lihat Sisi Lain: Cari dan dengarkan info berikutnya dari perspektif yang berbeda.

  3. Evaluasi: Lakukan perbandingan dan penilaian yang bijak.

Menurut Densu, melihat segala sesuatu dari banyak sisi akan mendewasakan audiens dan membantu mereka memahami suatu masalah secara utuh, alih-alih hanya mengikuti arus opini publik.

Halaman Selanjutnya
img_title