6 Tantangan Kerja WFH, Remote Worker Relate Banget!

Tips Menghilangkan Rasa Ngantuk Saat Bekerja
Sumber :
  • freepik.com

OlretWFH dulu terasa seperti “hadiah”. Nggak perlu bangun kepagian buat ngejar macet, bisa kerja pakai baju santai, dan lebih fleksibel atur waktu. Tapi makin lama dijalani, banyak remote worker sadar kalau kerja dari rumah juga punya tantangan yang nggak kalah bikin mental diuji.

Omari Restaurant Jakarta, Spot Santap Siang Teduh, Ruang Nyaman Untuk Mengobrol

Kalau kamu pernah merasa capek padahal nggak ke mana-mana, mungkin ini alasannya. Yuk, kita bahas tantangan kerja WFH yang super relate!

Batas kerja dan kehidupan pribadi makin blur

6 Keadaan yang Bikin People Pleaser Capek Mental

Salah satu tantangan terbesar WFH adalah batas yang nggak jelas antara jam kerja dan jam pribadi. Laptop ada di kamar, notifikasi masuk kapan saja, dan rasanya selalu “siap siaga”. Akibatnya, waktu istirahat jadi kepotong tanpa sadar.

Banyak perusahaan global seperti Twitter yang pernah menerapkan kebijakan remote permanen juga menghadapi isu serupa yaitu karyawan bekerja lebih lama dari jam normal. Solusinya? Disiplin bikin jam kerja tetap dan berani tutup laptop setelah selesai.

Awas Sakit Sendiri, Ini 7 Tanda Teman Kamu Toxic

Rasa kesepian yang diam-diam muncul

Kerja di kantor itu bukan cuma soal tugas, tapi juga interaksi sosial. Ngobrol santai di pantry, makan siang bareng, atau sekadar bercanda ringan bisa jadi pelepas stres.

Saat WFH, interaksi itu digantikan layar. Video call memang membantu, tapi tetap berbeda rasanya. Studi dari American Psychological Association menunjukkan bahwa koneksi sosial berperan besar dalam kesehatan mental. Jadi wajar kalau remote worker kadang merasa sepi meski kerjaannya lancar.

Gangguan di rumah lebih banyak dari yang dibayangkan

WFH bukan berarti suasana selalu tenang. Ada suara TV, anak rewel, kurir datang, atau godaan kasur yang terlihat “mengundang”. Distraksi kecil ini kalau dikumpulkan bisa bikin fokus buyar.

Makanya penting banget punya sudut kerja khusus, meskipun kecil. Otak butuh sinyal jelas: ini area kerja, bukan area rebahan.

Overworking tanpa sadar

Karena nggak ada momen “pulang kantor”, banyak remote worker merasa harus terus online agar terlihat produktif. Fenomena ini sering disebut “always on culture”.

Platform seperti Slack memang memudahkan komunikasi cepat, tapi juga bisa bikin kita merasa harus responsif setiap saat. Padahal, kerja efektif bukan berarti selalu online, melainkan tahu kapan harus fokus dan kapan harus istirahat.

Halaman Selanjutnya
img_title