7 Hal Romantis yang Hanya Dilakukan Pasangan LDM
- mbc
Olret – Hubungan jarak jauh alias LDM (Long Distance Marriage/Relationship) sering dianggap berat, penuh drama, dan rawan bosan. Padahal di balik jarak yang memisahkan, ada sisi romantis yang justru jarang dimiliki pasangan yang setiap hari bertemu. Bukan romantis ala film, tapi versi nyata yang lahir dari usaha, kesabaran, dan komitmen. Berikut 7 hal romantis yang biasanya hanya dilakukan pasangan LDM, dan sering luput disadari sebagai bentuk cinta yang dewasa.
1. Menyisihkan Waktu Secara Sadar
Bagi pasangan LDM, waktu adalah sesuatu yang benar-benar “diusahakan”, bukan sekadar tersedia. Mereka rela mengatur jadwal, begadang, atau bangun lebih pagi demi bisa berbincang walau sebentar. Di sini, romantis bukan soal durasi, tapi niat. Saat seseorang sengaja menyediakan waktu di tengah kesibukan, itu adalah bentuk perhatian yang nyata.
2. Peka Membaca Perubahan Mood
Karena tidak bisa bertemu langsung, pasangan LDM terbiasa membaca perubahan emosi dari suara, cara mengetik, atau jeda balasan. Kemampuan ini melatih empati dan kepekaan emosional. Mereka belajar memahami pasangan tanpa harus selalu dijelaskan panjang lebar, sebuah skill penting dalam hubungan jangka panjang.
3. Merayakan Hal Kecil Lewat Layar
Ulang tahun, pencapaian kerja, atau sekadar hari yang berat sering dirayakan lewat video call, kiriman pesan panjang, atau hadiah kecil yang dikirim jarak jauh. Meski sederhana, momen ini justru terasa intim karena penuh makna. Pasangan LDM belajar bahwa perayaan bukan soal tempat, tapi rasa.
4. Komunikasi yang Lebih Terarah
Pasangan yang sering bertemu kadang terjebak obrolan seadanya. Berbeda dengan LDM yang cenderung memanfaatkan waktu komunikasi untuk hal-hal penting. Mereka terbiasa membahas perasaan, rencana, kekhawatiran, hingga mimpi masa depan. Secara tidak langsung, hubungan jadi lebih dalam dan terstruktur.
5. Saling Percaya Tanpa Kontrol Berlebihan
Romantis versi LDM juga hadir dalam bentuk kepercayaan. Tidak bisa memantau setiap gerak pasangan membuat mereka belajar melepaskan kontrol. Kepercayaan ini bukan muncul tiba-tiba, tapi dibangun lewat konsistensi sikap dan komunikasi jujur. Hubungan pun tumbuh lebih sehat secara emosional.