Masa-Masa Indah Kerja Kantoran di Amerika Telah Berakhir

Terjebak Dalam Pekerjaan Toxic
Sumber :
  • google image

Olret – Perusahaan dan bisnis Amerika secara drastis mengurangi tunjangan kesejahteraan karyawan, menggantinya dengan metrik kinerja yang ketat, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih pragmatis.

7 Alasan Pinjol Nggak Worth It Buat Gen Z, Jangan Sampai Nyesel Belakangan

Beberapa tahun lalu, Tara Turk-Haynes, seorang spesialis sumber daya manusia di Los Angeles, secara rutin mempekerjakan instruktur yoga dan ahli meditasi untuk membantu karyawan mengurangi stres.

Namun sekarang, ia telah menghentikan semua itu. "Tunjangan kesejahteraan bukan lagi prioritas ketika mempertahankan talenta bukan lagi tantangan bagi bisnis," kata Turk-Haynes terus terang.

7 Makanan Olahan yang Diam-Diam Bikin Tekanan Darah Naik

Lingkungan kerja berbasis pengetahuan di Amerika Serikat semakin tidak ideal. Kesepakatan tak tertulis antara bisnis dan karyawan sedang didefinisikan ulang dengan cara yang lebih pragmatis. Fasilitas era pandemi menghilang, peraturan kerja di kantor diperketat, dan PHK terus berlanjut meskipun keuntungan perusahaan stabil.

Pergeseran keseimbangan kekuasaan terjadi.

Apa Itu Holiday Syndrome? Begini Penjelasannya

Ilustrasi Lingkungan Kerja

Photo :
  • Pinkvilla

Di tengah meningkatnya biaya hidup dan ancaman kecerdasan buatan (AI) terhadap banyak pekerjaan, perusahaan mulai memperketat jalur karier. Jessica Kriegel, Chief Strategy Officer di Culture Partners, mengamati: "Setelah pandemi, keseimbangan kekuasaan bergeser kembali ke arah pemberi kerja."

Bukti paling jelas adalah implementasi program peninjauan kinerja baru Meta baru-baru ini, yang secara erat mengaitkan promosi dengan hasil yang terukur.

Demikian pula, CEO Citi, Jane Fraser, mengumumkan penghapusan mekanisme usang untuk mengoptimalkan kinerja. AT&T juga meninggalkan sistem bonus berbasis senioritas, beralih ke model berbasis kinerja.

Profesor Peter Cappelli dari Wharton School (Universitas Pennsylvania) mengomentari paradoks yang disaksikan pasar: "Pasar saham mencapai rekor, perusahaan menghasilkan keuntungan besar, namun mereka masih memperketat jumlah karyawan."

Munculnya AI menimbulkan ancaman eksistensial bagi lingkungan perkantoran. Banyak CEO, seperti Tobi Lütke dari Shopify, mengharuskan manajer tingkat menengah untuk menunjukkan "mengapa tidak menggunakan AI" sebelum merekomendasikan perekrutan staf baru.

Mentalitas "Bertahan" untuk Pertahanan

Cara Mudah Menghindari Burnout di Tempat Kerja

Photo :
  • freepik.com

Pada kenyataannya, biaya tenaga kerja dan perawatan kesehatan di AS diperkirakan akan meningkat tajam tahun ini, ditambah dengan tekanan investasi ratusan miliar dolar dalam AI, memaksa para pemimpin bisnis untuk berhati-hati.

Pasar kerja berada dalam keadaan kontradiksi: "sedikit perekrutan, sedikit PHK." Menurut Lars Schmidt, seorang ahli perekrutan di Washington D.C., para pekerja menderita trauma psikologis yang signifikan karena mereka tidak dapat memprediksi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menemukan pekerjaan baru jika mereka kehilangan pekerjaan mereka saat ini.

Survei dari Yale School of Management menunjukkan bahwa hampir dua pertiga CEO Amerika tidak berniat menambah staf pada tahun 2026. Gaji yang stagnan telah mendorong pesimisme tentang keuangan pribadi ke tingkat tertinggi sejak tahun 2018.

Akibatnya, karyawan saat ini ragu untuk berganti pekerjaan, menerima peraturan ketat seperti wajib bekerja lima hari seminggu. "Tidak ada lagi pemberontakan atau tuntutan, karena orang-orang terlalu lelah dan takut," ujar Jeff LeBlanc, seorang dosen di Universitas Bentley.

Terlepas dari gambaran keseluruhan yang suram, para ahli menyarankan para pekerja untuk mencari cara beradaptasi. "Bertahanlah di posisi Anda saat ini jika tidak ada peluang baru yang lebih pasti, dan persiapkan strategi keluar Anda sendiri secara diam-diam," saran konsultan John Ferguson.

Selain itu, para pekerja harus menerapkan strategi secara menyeluruh untuk menunjukkan nilai mereka di era AI.

Ilustrasi Pekerjaan

Photo :
  • Pixabay/Aymanejed

Jadikan AI sebagai mitra: Alih-alih menolaknya, kuasai alat AI secara proaktif untuk menangani tugas-tugas berulang, menunjukkan kemampuan Anda untuk mengendalikan teknologi guna menggandakan efisiensi.

Optimalkan "keterampilan manusia": Fokus pada pengembangan kecerdasan emosional (EQ), keterampilan negosiasi, dan pemikiran kritis strategis – area di mana mesin belum dapat menggantikan Anda.

Bekerja berdasarkan data: Kuantifikasi kontribusi Anda secara proaktif dengan angka spesifik (pendapatan, penghematan biaya) untuk menunjukkan bahwa Anda adalah investasi yang menguntungkan, bukan beban biaya.