Menilik Peran Vital PORMIKI Surakarta: Jantung Data di Balik Pelayanan Kesehatan Modern
- pexels.com
5. Perjalanan Panjang PORMIKI Surakarta Menjaga Marwah Data
Bayangkan sebuah rumah sakit di awal tahun 80-an. Di sebuah lorong sunyi yang dipenuhi tumpukan kertas yang menguning, ada sekelompok orang yang bekerja dalam diam.
Mereka bukan dokter yang memegang stetoskop, bukan pula perawat yang menyuntikkan obat. Namun, di tangan merekalah nasib riwayat kesehatan setiap pasien ditentukan.
Inilah kisah tentang lahirnya PORMIKI, sebuah organisasi yang bermula dari keresahan, lalu tumbuh menjadi pilar teknologi informasi kesehatan, termasuk di jantung kota budaya, Surakarta.
Babak Pertama: Percikan Api di Jakarta (1981)
Semuanya bermula pada 17 Desember 1981. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, sebuah kelompok kecil bernama PPSPM (Panitia Kerja Pembinaan dan Pengembangan Sistem Pencatatan Medis) dibentuk. Di bawah kepemimpinan sosok visioner, Ibu Gemala Hatta, mereka sadar bahwa rekam medis bukan sekadar catatan tentang siapa yang sakit dan obat apa yang diberikan.
Rekam medis adalah "suara" pasien. Jika datanya berantakan, maka pelayanan kesehatan pun akan buta. PPSPM mulai berkeliling Indonesia, menabur benih kesadaran akan pentingnya manajemen data medis yang profesional.
Babak Kedua: Momen "Proklamasi" 1989
Waktu berlalu, kebutuhan akan wadah profesional yang resmi semakin mendesak. Akhirnya, pada Sabtu pagi tanggal 18 Februari 1989, sejarah besar terukir. Di sebuah ruangan di Jakarta, 31 tokoh berkumpul dengan semangat yang sama.
Di sana, sebuah "Naskah Proklamasi" ditandatangani. Bukan proklamasi kemerdekaan negara, melainkan proklamasi berdirinya PORMIKI. Menariknya, nama "PORMIKI" sendiri lahir dari tangan dingin Prof. Anton Moeliono, sang maestro bahasa Indonesia.
Nama itu bukan sekadar akronim, melainkan identitas kebanggaan bagi mereka yang menjaga kerahasiaan dan akurasi data pasien.
Babak Ketiga: Semangat yang Sampai ke Kota Solo
Gelombang profesionalisme ini tidak berhenti di ibu kota. Ia mengalir hingga ke Jawa Tengah, dan akhirnya membentuk akar yang kuat di Surakarta.
Para praktisi rekam medis di Solo Raya menyadari bahwa tantangan di rumah sakit-rumah sakit lokal—mulai dari RSUD hingga RS swasta—memerlukan standar yang sama. PORMIKI Surakarta hadir sebagai "rumah" bagi para pejuang data di Solo.