8 Cara Mengatasi Anak Tantrum di Ruang Publik
Olret – Tantrum di ruang publik sering menjadi momen paling menguji kesabaran orang tua. Baru belanja sebentar, tiba-tiba anak menangis keras, berguling, atau berteriak. Orang-orang mulai menatap, sementara kamu mulai panik. Tenang saja, tantrum bukan tanda kamu gagal jadi orang tua.
Ini bagian dari fase perkembangan anak, terutama usia 1–5 tahun, ketika kemampuan mengelola emosi mereka belum matang. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita merespons. Berikut langkah-langkah efektif yang bisa membantu.
1. Tetap Tenang, Jangan Ikut Panik
Anak sangat peka dengan emosi orang tua. Semakin panik atau marah, semakin lama tantrum berlangsung. Tarik napas, jaga suara tetap rendah, dan tunjukkan bahwa kamu “aman” untuk mereka. Sikap tenang juga membuat anak lebih cepat mereda.
2. Pahami Penyebab Tantrum
Tantrum biasanya muncul karena anak lapar, mengantuk, overstimulated (terlalu banyak rangsangan), bosan, atau kecewa ketika keinginannya tidak dituruti. Kalau kamu tahu pemicunya, kamu lebih mudah menentukan respons yang tepat. Misalnya, kalau anak mengantuk, kamu bisa mengajak mencari tempat duduk tenang dulu.
3. Jangan Langsung Menyerah pada Permintaan Anak
Banyak orang tua akhirnya mengiyakan permintaan anak karena malu dilihat orang. Tapi ini justru membuat anak belajar bahwa cara terbaik mendapatkan sesuatu adalah dengan menangis keras di tempat umum. Tetap konsisten dengan aturan yang sudah kamu buat, tapi lakukan dengan lembut dan penuh empati.
4. Alihkan Perhatian dengan Cara Kreatif
Distraksi bisa sangat efektif, apalagi untuk balita. Kamu bisa:
- Menunjukkan benda yang menarik (“Lihat lampu di atas itu, warnanya terang sekali ya?”)
- Mengalihkan ke aktivitas lain (“Ayo bantu Mama pilih buah yang warnanya merah!”)
- Memberikan benda aman untuk dimainkan sementara
Alih perhatian bukan menyuap, tapi menggeser fokus anak yang sedang emosional.
5. Ajak ke Tempat Lebih Tenang
Jika situasinya terlalu ramai, bawa anak ke sudut ruangan, mushola, atau area sepi. Lingkungan tenang membuat anak lebih cepat recover. Selain itu, kamu juga bisa lebih fokus menenangkan tanpa rasa tertekan oleh tatapan sekitar.
6. Validasi Emosi Anak
Anak tantrum bukan karena “nakal”, tapi karena belum bisa mengungkapkan emosi dengan kata-kata. Katakan dengan lembut:
“Kamu marah ya karena tidak boleh beli mainan itu?”
“Mama tahu kamu capek, sini peluk dulu.”
Validasi bukan berarti setuju, tapi memberi tahu bahwa emosi mereka dipahami, sehingga anak lebih cepat tenang.
7. Jangan Lupa Pelukan atau Sentuhan Menenangkan
Sentuhan lembut atau pelukan bisa jadi cara ampuh meredakan tantrum, terutama untuk anak yang tipe “sensory seeker”. Pelukan membuat anak merasa aman dan didukung.
8. Setelah Tenang, Ajak Bicara Singkat
Saat tantrum mereda, gunakan momen itu untuk memberi pemahaman dengan bahasa sederhana. Misalnya: “Tadi kamu marah karena ingin cokelat, tapi kamu teriak-teriak. Lain kali, kalau mau sesuatu, bilang ya. Kita bisa cari solusi bersama.”
Tantrum di ruang publik memang melelahkan, tapi bisa ditangani dengan tenang, konsisten, dan empati. Kenali pemicunya, tetap tenang, alihkan perhatian, validasi emosi, dan ajak anak ke tempat yang lebih sepi jika perlu.
Dengan respons yang tepat, anak bukan hanya lebih cepat tenang, tapi juga belajar cara mengelola emosinya sendiri. Tantrum bukan medan perang ini adalah kesempatan mengajarkan anak memahami dirinya.