Benarkah Puasa Bisa Menurunkan Stres? Begini Faktanya

Kegiatan Bermanfaat dan Meningkatkan Iman Saat Puasa
Sumber :
  • instagram

OlretRamadhan sering disebut sebagai bulan yang bikin hati lebih adem. Banyak orang merasa lebih sabar, lebih tenang, bahkan lebih “ringan” secara emosional saat berpuasa. Tapi pertanyaannya, apakah puasa memang bisa menurunkan stres secara ilmiah, atau ini cuma sugesti karena suasana religius? Yuk, kita bahas di ulasan artikel ini!

Selama Bulan Ramadhan Rumah Sakit Sepi? Ini Fakta dan Penjelasannya

Puasa dan Hormon Stres

Stres berkaitan erat dengan hormon kortisol. Saat kita tertekan, tubuh memproduksi kortisol lebih tinggi. Dalam jangka panjang, kadar kortisol yang terus tinggi bisa berdampak pada kecemasan, gangguan tidur, bahkan penurunan daya tahan tubuh.

Puasa dan Kesehatan Mental: Menenangkan Diri di Tengah Aktivitas

Beberapa penelitian yang dihimpun oleh National Institutes of Health menunjukkan bahwa pola puasa tertentu, seperti intermittent fasting, dapat membantu regulasi hormon stres dalam kondisi tubuh yang sehat. Tubuh belajar beradaptasi terhadap perubahan asupan energi, sehingga respons stres menjadi lebih terkontrol.

Efek Puasa pada Otak dan Mood

Sakit Kepala Saat Banyak Pikiran, Tubuh Sedang Kirim Sinyal Ini

Puasa tidak hanya memengaruhi perut, tetapi juga otak. Studi dalam jurnal Nutrients menyebutkan bahwa pembatasan makan sementara dapat memengaruhi neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin—dua zat kimia yang berperan dalam suasana hati.

Tak heran jika sebagian orang merasa lebih fokus dan lebih tenang saat puasa. Ditambah lagi, praktik ibadah seperti doa dan refleksi diri selama Ramadhan dapat meningkatkan rasa makna hidup dan koneksi spiritual.

Menurut berbagai laporan yang juga dirujuk oleh World Health Organization, kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh gaya hidup, pola tidur, dan keseimbangan aktivitas harian. Puasa yang dijalani dengan ritme teratur bisa membantu memperbaiki pola tersebut.

Puasa Melatih Self-Control

Menahan lapar, haus, dan emosi bukan hal mudah. Namun justru di situlah “latihan mental”-nya. Dalam psikologi, kemampuan menunda kepuasan disebut delayed gratification. Konsep ini populer lewat riset yang dilakukan oleh peneliti di Stanford University tentang kontrol diri.

Semakin terlatih seseorang dalam mengendalikan impuls, semakin baik pula regulasi emosinya. Puasa bisa menjadi bentuk latihan nyata untuk mengelola reaksi, termasuk saat menghadapi situasi yang memicu stres.

Tapi, Kenapa Ada yang Justru Mudah Marah Saat Puasa?

Halaman Selanjutnya
img_title