5 Kebiasaan Malam Hari yang Meningkatkan Risiko Stroke Saat Tidur
- Gemini Ai
4. Makan Larut Malam
Makan larut malam, terutama makanan tinggi lemak jenuh seperti makanan gorengan, makanan cepat saji, atau minuman manis, mengganggu metabolisme dan meningkatkan kadar lipid darah.
Seiring waktu, kebiasaan ini berkontribusi pada kelebihan berat badan dan obesitas, merusak endotel vaskular, dan membentuk gumpalan darah, yang menyebabkan stroke akibat penyumbatan arteri serebral. Lemak jenuh juga meningkatkan kolesterol jahat (LDL), mempercepat perkembangan aterosklerosis.
5. Stres
Stres dan kecemasan yang berkepanjangan seringkali diabaikan sebagai faktor risiko yang berdampak signifikan pada sistem vaskular. Selama stres, tubuh terus menerus melepaskan kortisol dan adrenalin, menyebabkan peningkatan tekanan darah dan vasokonstriksi.
Jika ini terjadi secara sering, pembuluh darah otak lebih rentan terhadap kerusakan, terutama di malam hari ketika tekanan darah tidak terkontrol dengan baik.
Mengelola kondisi mendasar seperti hipertensi, diabetes, dan dislipidemia secara efektif sangat penting. Melakukan olahraga ringan sekitar 30 menit setiap hari, tidur 7-8 jam, dan menjaga tubuh tetap hangat di cuaca dingin membantu menstabilkan tekanan darah dan melindungi pembuluh darah otak.
Individu di atas 50 tahun atau mereka yang berisiko tinggi, seperti penderita penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes, kelebihan berat badan, atau kolesterol tinggi, harus menjalani pemeriksaan stroke secara teratur menggunakan teknik pencitraan modern seperti USG, CT multislice, atau MRI 3 Tesla untuk mendeteksi kerusakan pembuluh darah otak dini.
Mereka yang mendengkur keras atau diduga menderita apnea tidur harus diperiksa menggunakan polisomnografi untuk mendeteksi kekurangan oksigen nokturnal – faktor yang meningkatkan risiko stroke.
Jika saat bangun tidur muncul gejala seperti wajah terkulai, kelemahan atau kelumpuhan pada satu sisi tubuh, bicara cadel, atau perubahan kesadaran, segera hubungi layanan darurat. Sambil menunggu petugas medis, posisikan pasien miring dengan kepala sedikit terangkat 30–45 derajat untuk menjaga jalan napas tetap terbuka.
Jangan memberikan obat atau memindahkan pasien tanpa berkonsultasi dengan dokter. Deteksi dan pengobatan dini merupakan faktor penting dalam menentukan kelangsungan hidup dan pemulihan setelah stroke.