2 Kali Lipat Lebih Bahaya dari Kurang Tidur, Ini Penjelasannya
- vnexpress.net
Temuan ini membantu mengkonfirmasi dan memperjelas mekanisme di mana insomnia yang sering terjadi dapat menjadi tanda peringatan dini penyakit Alzheimer.
Menurut sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah npj Dementia, para ilmuwan telah lama menyadari bahwa masalah tidur sering muncul jauh lebih awal daripada gejala penurunan daya ingat pada pasien Alzheimer.
Teori-teori sebelumnya sering berfokus pada plak protein tau yang merusak sel-sel otak dan mengganggu komunikasi antar sel. Namun, penelitian ini menyelidiki mekanisme biologis di balik gangguan tidur tersebut.
Para penulis mempelajari tikus dengan penyakit terkait tau, memantau bagaimana otak mereka menggunakan energi saat protein tau mulai menumpuk secara abnormal.
Mereka berfokus pada pengamatan metabolisme glukosa (gula) di otak dan perubahan neurotransmiter selama tahap awal penyakit, bahkan sebelum gumpalan protein tau terbentuk sepenuhnya.
Kesulitan tidur
- https://pixabay.com/illustrations/ai-generated-woman-bed-sleep-8498787/
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika protein tau mengalami kerusakan, otak tidak menggunakan glukosa sebagai energi seperti biasanya.
Sebaliknya, otak "membajak" glukosa untuk terus memproduksi glutamat, neurotransmiter yang merangsang pembelajaran dan memori.
Kelebihan glutamat membuat sistem saraf tetap dalam keadaan siaga tinggi, sehingga menyulitkan otak untuk beralih ke tidur nyenyak dan pemulihan, yang menyebabkan insomnia dan kualitas tidur yang buruk.
Itu tampaknya kabar buruk. Tetapi penemuan mekanisme ini membuka jalan yang dapat memperlambat timbulnya dan perkembangan penyakit Alzheimer.
Misalnya, modulator metabolisme (seperti yang digunakan untuk epilepsi atau diabetes tipe 2) dapat digunakan untuk menenangkan "hiperaktivitas" otak, sehingga membantu pasien mendapatkan kembali tidur nyenyak, yang sangat penting untuk pemulihan, pembentukan memori, dan memerangi perkembangan penyakit Alzheimer.