7 Alasan Terlalu Perfeksionis Bikin Karier Nge-stuck

Pekerjaan
Sumber :
  • freepik.com

OlretPerfeksionis sering dianggap sebagai sifat positif. Rapi, teliti, dan selalu ingin hasil terbaik. Di awal karier, sikap ini bahkan bisa bikin kamu terlihat kompeten. Tapi kalau kebablasan, perfeksionisme justru bisa jadi penghambat besar. Banyak orang nggak sadar kalau kariernya jalan di tempat bukan karena kurang pintar, tapi karena terlalu sibuk mengejar kesempurnaan.

Oppo Find X10 Dirumorkan Bawa Kamera Ganda 200MP dan Chipset 2nm, Siap Jadi Lompatan Besar Seri Find

Ini tujuh alasan kenapa terlalu perfeksionis bisa bikin karier kamu berhenti di situ-situ saja.

1. Terlalu Lama di Tahap Persiapan

BMAX I10 S Pro Resmi Dijual: Tablet Android Tangguh dengan Baterai 10.000mAh

Perfeksionis cenderung menunda eksekusi karena merasa belum siap. Presentasi ditunda, ide disimpan, peluang dilewatkan hanya karena merasa “belum sempurna”. Padahal di dunia kerja, yang dihargai sering kali bukan yang paling rapi, tapi yang berani jalan dulu.

2. Takut Salah Berlebihan

GMKtec NucBox K13: Mini PC Ultra-Kompak dengan AI Performa Tinggi

Kesalahan dianggap musuh besar. Akibatnya, perfeksionis jadi terlalu hati-hati dan enggan mengambil risiko. Padahal, banyak lompatan karier justru datang dari keberanian mencoba hal baru. Takut salah terus-menerus bikin kamu terlihat pasif dan kurang inisiatif.

3. Sulit Delegasi dan Kerja Tim

Perfeksionis sering merasa hasil kerja orang lain nggak sesuai standar pribadinya. Akhirnya semua dikerjakan sendiri. Ini bukan cuma melelahkan, tapi juga bikin kamu terlihat tidak siap memimpin. Dalam karier, kemampuan kolaborasi dan delegasi adalah kunci naik level.

4. Produktivitas Jadi Tidak Efisien

Menghabiskan terlalu banyak waktu untuk detail kecil bisa mengorbankan hal yang lebih penting. Revisi berulang, edit minor yang berlebihan, dan keinginan menyempurnakan segalanya membuat output melambat. Hasilnya, kamu terlihat sibuk, tapi dampaknya minim.

5. Sulit Menerima Feedback

Karena merasa sudah mengerahkan usaha maksimal, kritik sering dianggap sebagai serangan personal. Padahal feedback adalah alat penting untuk berkembang. Ketika kamu defensif atau menutup diri, atasan dan rekan kerja bisa enggan memberi masukan ke depannya.

6. Mudah Lelah dan Rentan Burnout

Standar tinggi yang terus dipaksakan tanpa kompromi bikin energi cepat terkuras. Perfeksionis sering merasa tidak pernah cukup, meski hasil kerjanya bagus. Kondisi ini bisa memicu stres kronis dan burnout, yang jelas berdampak buruk pada performa dan konsistensi karier.

7. Sulit Melihat Peluang Lebih Besar

Terlalu fokus pada detail membuat perfeksionis kehilangan gambaran besar. Karier bukan cuma soal tugas harian, tapi juga strategi, relasi, dan positioning diri. Kalau kamu terlalu sibuk memperbaiki hal kecil, peluang besar bisa lewat begitu saja.

Perfeksionisme bukan musuh, tapi harus dikendalikan. Standar tinggi tetap penting, namun fleksibilitas dan keberanian bertindak jauh lebih menentukan dalam perjalanan karier. Di dunia kerja, progres lebih berharga daripada kesempurnaan. Belajar cukup baik dan lanjut ke langkah berikutnya sering kali jadi kunci agar karier tidak terus nge-stuck.