Menilik Peran Vital PORMIKI Surakarta: Jantung Data di Balik Pelayanan Kesehatan Modern
- pexels.com
Olret – Di balik dinding rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang sibuk, terdapat satu elemen krusial yang menentukan keselamatan pasien namun jarang tersorot: Data Rekam Medis.
Di Surakarta, garda terdepan yang memastikan data ini akurat, aman, dan profesional adalah DPD PORMIKI Jawa Tengah melalui cabang Surakarta.
Bagi kamu yang berkecimpung di dunia kesehatan atau sekadar ingin tahu bagaimana sistem medis bekerja, mengenal PORMIKI (Perhimpunan Profesional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia) adalah kunci untuk memahami masa depan layanan kesehatan digital.
1. Lebih dari Sekadar Pengarsipan
Banyak yang mengira rekam medis hanya soal menumpuk kertas di gudang. Faktanya, melalui PORMIKI Surakarta, para profesional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK) bertransformasi menjadi analis data kesehatan.
Mereka memastikan bahwa setiap diagnosis, tindakan dokter, dan riwayat alergi pasien tercatat dengan standar internasional, yang sangat krusial untuk:
- Keselamatan Pasien: Mencegah kesalahan prosedur medis.
- Efisiensi Biaya: Mempermudah proses klaim asuransi dan BPJS.
- Riset Medis: Menyediakan data valid untuk penelitian penyakit di masa depan.
2. Digitalisasi Kesehatan di Kota Solo
Sejalan dengan visi pemerintah untuk mengimplementasikan Rekam Medis Elektronik (RME) secara nasional, PORMIKI Surakarta berperan sebagai jembatan ilmu.
Melalui situs resmi pormikisurakarta.org, organisasi ini aktif mengedukasi anggotanya agar siap menghadapi era Big Data dan kecerdasan buatan (AI) di rumah sakit.
3. Rumah Bagi Para Profesional
Bagi para praktisi di wilayah Solo dan sekitarnya, PORMIKI bukan sekadar organisasi formalitas. Ini adalah pusat pengembangan diri melalui:
- CPD (Continuous Professional Development): Memastikan setiap anggota selalu up-to-date dengan regulasi terbaru.
- Sertifikasi & SKP: Mempermudah pengurusan syarat administratif praktik profesi secara transparan.
- Jaringan Komunitas: Menghubungkan ribuan PMIK untuk berbagi solusi atas kendala di lapangan.
4. Visi Go International 2025
Target PORMIKI tidak main-main. Mereka berambisi membawa standar manajemen informasi kesehatan Indonesia ke kancah global. Dengan sekretariat yang berpusat di wilayah Laweyan, Surakarta, semangat ini dibawa ke setiap seminar dan pelatihan yang mereka adakan.
"Data yang baik menyelamatkan nyawa." > Itulah semangat yang dijaga oleh PORMIKI Surakarta. Tanpa rekam medis yang handal, pelayanan kesehatan hanyalah tebak-tebakan.
5. Perjalanan Panjang PORMIKI Surakarta Menjaga Marwah Data
Bayangkan sebuah rumah sakit di awal tahun 80-an. Di sebuah lorong sunyi yang dipenuhi tumpukan kertas yang menguning, ada sekelompok orang yang bekerja dalam diam.
Mereka bukan dokter yang memegang stetoskop, bukan pula perawat yang menyuntikkan obat. Namun, di tangan merekalah nasib riwayat kesehatan setiap pasien ditentukan.
Inilah kisah tentang lahirnya PORMIKI, sebuah organisasi yang bermula dari keresahan, lalu tumbuh menjadi pilar teknologi informasi kesehatan, termasuk di jantung kota budaya, Surakarta.
Babak Pertama: Percikan Api di Jakarta (1981)
Semuanya bermula pada 17 Desember 1981. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, sebuah kelompok kecil bernama PPSPM (Panitia Kerja Pembinaan dan Pengembangan Sistem Pencatatan Medis) dibentuk. Di bawah kepemimpinan sosok visioner, Ibu Gemala Hatta, mereka sadar bahwa rekam medis bukan sekadar catatan tentang siapa yang sakit dan obat apa yang diberikan.
Rekam medis adalah "suara" pasien. Jika datanya berantakan, maka pelayanan kesehatan pun akan buta. PPSPM mulai berkeliling Indonesia, menabur benih kesadaran akan pentingnya manajemen data medis yang profesional.
Babak Kedua: Momen "Proklamasi" 1989
Waktu berlalu, kebutuhan akan wadah profesional yang resmi semakin mendesak. Akhirnya, pada Sabtu pagi tanggal 18 Februari 1989, sejarah besar terukir. Di sebuah ruangan di Jakarta, 31 tokoh berkumpul dengan semangat yang sama.
Di sana, sebuah "Naskah Proklamasi" ditandatangani. Bukan proklamasi kemerdekaan negara, melainkan proklamasi berdirinya PORMIKI. Menariknya, nama "PORMIKI" sendiri lahir dari tangan dingin Prof. Anton Moeliono, sang maestro bahasa Indonesia.
Nama itu bukan sekadar akronim, melainkan identitas kebanggaan bagi mereka yang menjaga kerahasiaan dan akurasi data pasien.
Babak Ketiga: Semangat yang Sampai ke Kota Solo
Gelombang profesionalisme ini tidak berhenti di ibu kota. Ia mengalir hingga ke Jawa Tengah, dan akhirnya membentuk akar yang kuat di Surakarta.
Para praktisi rekam medis di Solo Raya menyadari bahwa tantangan di rumah sakit-rumah sakit lokal—mulai dari RSUD hingga RS swasta—memerlukan standar yang sama. PORMIKI Surakarta hadir sebagai "rumah" bagi para pejuang data di Solo.
Mereka yang dulu bekerja di antara tumpukan berkas, mulai bertransformasi menjadi ahli informatika kesehatan yang menguasai kode-kode penyakit dunia (ICD).
Babak Keempat: Menatap Masa Depan (Visi 2025)
Kini, sejarah tersebut memasuki babak baru. Jika dulu musuh utama adalah debu kertas dan tinta yang luntur, kini tantangannya adalah keamanan siber dan integrasi data digital.
PORMIKI Surakarta tidak lagi hanya bicara soal masa lalu. Lewat sekretariatnya di Laweyan, mereka sedang mempersiapkan diri untuk target besar: Go International 2025. Mereka memastikan bahwa Perekam Medis di Solo bukan sekadar tukang catat, melainkan manajer informasi yang setara dengan tenaga kesehatan global.
Pesan dari Masa Lalu untuk Masa Depan
Sejarah yang tercatat di websitenya https://pormikisurakarta.org/sejarah mengajarkan kita satu hal: Data tidak pernah berbohong, namun data butuh penjaga yang jujur.
Dari 31 deklarator di tahun 1989 hingga ribuan anggota di Surakarta saat ini, semangatnya tetap satu: Memastikan bahwa setiap titik dan koma dalam rekam medis Anda adalah kunci menuju kesembuhan yang lebih baik.