Menjemput Pagi di Puncak Awan: Kisah Perjalanan ke Pasir Ipis dan Curug Naga Biru
- idris hasibuan
Olret – Bagi sebagian orang, akhir pekan adalah waktu untuk beristirahat di balik selimut. Namun bagi kami, akhir pekan adalah panggilan untuk kembali ke pelukan alam.
Kali ini, langkah kaki membawa kami menuju sebuah destinasi yang menjanjikan kemegahan di atas ketinggian: Puncak Pasir Ipis, atau yang sering dijuluki sebagai Puncak Awan.
Langkah Awal yang Hangat
Pagi itu dimulai dengan tawa dan candaan ringan di titik kumpul. Sebelum sepatu mulai menapak tanah yang lembap, doa dipanjatkan agar perjalanan kami dilindungi.
Rombongan kami berjumlah sekitar 13 orang, sebuah tim kecil yang siap menaklukkan tanjakan demi tanjakan demi satu tujuan: melihat lautan awan yang legendaris.
Menembus Hutan dan Kabut
Puncak Pasir Ipis
- idris hasibuan
Jalur pendakian menuju Puncak Pasir Ipis menyuguhkan tantangan yang jujur. Akar-akar pohon yang menyembul dan tanah yang sesekali licin memaksa kami untuk tetap waspada.
Di sela napas yang mulai tersengal, kami melewati pos-pos berupa rumah panggung kayu yang asri, tempat yang sempurna untuk sekadar melepas lelah atau berfoto sejenak.
Obrolan di sepanjang jalan menjadi bumbu yang membuat pendakian tidak terasa berat. Kami berbagi cerita tentang kehidupan, pekerjaan, hingga bekal makanan yang memenuhi tas—yang kata teman-teman lebih berat dari tendanya sendiri!.
Pesona Curug Sawer dan Curug Naga Biru
Curug Naga Biru Bogor
- idris hasibuan
Perjalanan kami tidak langsung menuju puncak. Alam memberikan "bonus" berupa kesegaran air terjun. Kami sempat singgah di Curug Sawer. Meski alirannya tidak terlalu besar saat itu, jernihnya air dan suasana tenang di sana cukup untuk mengisi kembali energi kami.
Namun, tantangan sebenarnya ada setelah itu. Menuju Curug Naga, kami harus melewati jalur yang ekstrem. "Tangga Roblox," begitu kami menyebutnya, karena kemiringannya yang curam dan menuntut kerja ekstra dari otot kaki. Setiap langkah di anak tangga itu membawa kami semakin dekat dengan rahasia alam yang lebih indah.
Hadiah di Puncak: Lautan di Atas Langit
Lelah itu mendadak hilang tanpa jejak saat mata kami menatap ke cakrawala. Di depan mata, terbentang pemandangan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata: Lautan Awan. Putih bersih, bergulung pelan di bawah sinar matahari yang cerah.