Menantang Nokanayan: Perjuangan Berdarah Menuju Jantung Kalimantan
- youtube
Olret – Kalimantan bukan sekadar hamparan hijau di atas peta; bagi Andrew Kalaweit, ia adalah labirin air dan batu yang menuntut rasa hormat setinggi langit.
Dalam petualangan terbarunya, Andrew membawa kita melintasi batas ketahanan fisik dan mental untuk mencapai salah satu air terjun tertinggi di Indonesia: Nokanayan.
"Sungai Adalah Jalan Raya, Tapi Tanpa Aspal"
Perjalanan dimulai dari Pontianak. Delapan jam di dalam mobil menuju Nanga Pinoh hanyalah pemanasan. Tantangan sebenarnya muncul saat roda karet berganti dengan lunas perahu kayu. Di wilayah pedalaman Kalimantan Barat ini, sungai adalah satu-satunya urat nadi transportasi.
"Perjalanan menuju Nokanayan merupakan salah satu trip paling panjang dan melelahkan yang pernah aku lalui," ungkap Andrew saat memulai narasi perjalanannya.
Namun, sungai tidak selalu ramah. Kondisi air yang sedang surut mengubah sungai menjadi medan perang bebatuan. Perahu speedboat besar harus ditinggalkan, diganti dengan perahu kecil yang lebih lincah namun sempit. Di sini, kenyamanan adalah kemewahan yang harus dikubur dalam-dalam.
Bertarung Melawan Riam dan Arus
Bagi orang awam, melihat riam (jeram) mungkin terasa indah. Bagi Andrew dan tim, riam adalah rintangan yang memaksa mereka turun ke air, menarik perahu secara manual, hingga berenang melawan arus yang tidak terduga.
Momen paling mendebarkan terjadi ketika Andrew mencoba menyeberangi arus deras. Dalam sekejap, ia kehilangan pijakan dan tersapu arus.
"Aku enggak dapat grip, kepeleset, ujungnya dibawa arus. Walaupun sungainya kelihatan kecil, tapi tetap sangat powerful," kenang Andrew.
Meski berhasil menepi, alam meninggalkan "kenang-kenangan" pada tubuhnya. Lutut dan betisnya memar membiru akibat hantaman batu sungai. Namun, bagi seorang rimbawan, luka adalah bagian dari harga yang harus dibayar untuk sebuah keindahan yang belum terjamah.
Menembus Malam di Bawah Bulan Purnama
Setelah seharian bertarung dengan riam, menggotong barang, hingga menembus hutan dengan ojek lokal untuk memotong jalur yang kering, tantangan belum usai. Saat matahari terbenam, tim masih berada di tengah ketidakpastian.
Namun, keletihan itu sedikit terobati oleh magisnya alam Kalimantan. Di bawah cahaya bulan purnama yang memantul di permukaan sungai yang tenang, mereka terus melaju menuju Desa Deme. Suasana hening hutan primer di malam hari memberikan energi tambahan untuk menyelesaikan etape terakhir hari itu.