Nias: Jejak Megalitik dan Rahasia di Balik Tradisi Lompat Batu
- youtube
Olret – Pulau Nias, atau yang dikenal oleh penduduk lokal sebagai Tanö Niha, bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah sebuah museum hidup di mana waktu seakan berhenti, membiarkan warisan zaman batu tetap bernapas di tengah modernitas.
Dari puncak perbukitan Desa Bawomataluo hingga ritual sakral di Hilisimaitane, Nias menawarkan simfoni budaya yang tak ada duanya di dunia.
Bawomataluo: Desa di Atas Puncak Matahari
Berada di ketinggian 324 mdpl, Desa Bawomataluo (Bukit Matahari) menyambut pengunjung dengan kabut tebal dan deretan rumah adat Omo Hada yang berbaris rapi. Ada satu aturan unik yang mencerminkan betapa sakralnya tempat ini: mesin motor dilarang menyala di dalam desa.
"Mesin sepeda motor yang melintasi desa tak boleh dihidupkan. Motor harus didorong... Hal ini dilakukan untuk menjaga ketenangan dan kesucian desa," jelas narasi dalam video.
Di jantung desa ini berdiri Omo Sebua, rumah raja setinggi 40 meter yang dibangun tanpa paku tunggal, hanya menggunakan pasak kayu yang telah bertahan lebih dari 400 tahun. Di dalamnya, ratusan tengkorak babi (yang dahulu merupakan tengkorak manusia hasil perang) berderet di langit-langit sebagai simbol keberanian masa lalu.
Fahombo: Lebih dari Sekadar Melompati Batu
Banyak yang mengira Fahombo atau Lompat Batu adalah syarat bagi pemuda Nias untuk menikah. Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Tradisi ini adalah sisa-sisa latihan militer kuno.
"Lompat batu itu sebenarnya dulu adalah pria yang siap untuk berperang... untuk melompati pagar desa lawan," ungkap seorang warga lokal.
Menariknya, video ini meluruskan mitos populer:
"Beberapa sumber salah mengartikan bahwa tradisi ini merupakan syarat bagi seorang lelaki dewasa untuk menikah... Ini adalah informasi yang keliru dan sangat salah," tegas narasi tersebut.
Seorang pelompat batu, Silvester Putra, berbagi betapa sakral dan berisikonya tradisi ini. Ia menyebutkan bahwa dari ribuan penduduk, hanya sekitar 12 orang yang benar-benar mampu menaklukkan batu setinggi 2 meter tersebut.
Jiwa Seni yang Berbisik Lewat Kayu
Nias juga tentang kelembutan tangan para pengrajinnya. Ama Sufi Jagete, seorang pemahat veteran, menjelaskan makna di balik patung-patung kayu yang ia ciptakan. Salah satunya adalah Adu Zatua, patung penjaga yang memegang kepala sebagai simbol kemenangan perang masa lalu.