Di Balik Ucapan "Happy Anniversary": Kisah Pilu Helwa Bachmid yang Mengaku Istri Cadangan yang Terlantar
Olret – Hari jadi pernikahan seharusnya menjadi momen perayaan cinta dan komitmen, namun bagi Helwa Bachmid mengakui ada kisah pilu dibalik hari pernikahannya. Hal ini dia akui lewat unggan di instagramnya @helwabachmid_.
Lewat instagram tersebut dalam penutupan statusnya yang menyebut dirinya sebagau "istri cadangan yang kau telantarkan", tanggal ini justru menjadi pengingat pahit akan penderitaan dan pengkhianatan.
Melalui sebuah unggahan yang menggugah di Instagram, ia membongkar kisah pernikahan tersembunyi yang telah berlangsung selama satu tahun—satu tahun yang disebutnya penuh dengan kekecewaan dan derita.
Ketika Janji Suci Berubah Menjadi Kehampaan
Ungkapan pembuka yang ironis, "Happy Anniversary sayang...", segera diikuti dengan sebuah pengakuan yang menghancurkan. Selama 365 hari, ia hidup dalam status yang dirahasiakan, merasakan kepahitan yang tak terperi.
"Ga nyangka ya kamu menutupi pernikahan kita udh satu tahun dan selama satu tahun ini hidup aku penuh kamu buat menderita. Segala kekecewaan full km kasih ke aku..."
Statusnya bukan hanya tentang kekecewaan pribadi. Ia juga menyoroti kegagalan suaminya dalam menjalankan peran sebagai kepala rumah tangga yang berlandaskan agama. Pengakuan ini menyentak siapapun yang membaca, menggali lebih dalam makna komitmen dalam sebuah ikatan suci.
"...selama kita menikah aku tidak merasakan di bimbing secara agama..."
Kehidupan Bagaikan Istri Simpanan
Bagian yang paling menyayat hati dari curahan ini adalah penggambarannya tentang bagaimana ia diperlakukan. Ia merasa hanyalah 'istri cadangan', seseorang yang hanya dibutuhkan untuk pemenuhan hasrat, namun diabaikan dalam konteks kehidupan sehari-hari dan emosional.
"...hidup ku bagaikan istri simpananmu yang kmu butuhkan di saat kamu hanya ingin hs sama aku tapi kamu tidak pernah datang untuk melihat keadaan ku gmn bahkan sekedar nnya keadaan ku aja kamu ga pernah."
Kontras antara kebutuhan fisik dan pengabaian emosional ini menciptakan jurang penderitaan yang mendalam. Ia merasa sakit, bukan hanya karena janji pernikahan yang diingkari, tetapi juga karena sulitnya bahkan sekadar berkomunikasi dengan orang yang telah berjanji untuk menjaganya.
"sakit aku menahan ini bukan hanya di kecewakan tentang janji pernikahan tapi juga aku memikirkan keadaan anak ku yang tidak punya sosok bapa bertanggung jawab untuknya."
Sebuah Seruan Pemberani dari Keterlantaran
Keputusan untuk memublikasikan kisah ini bukanlah didorong oleh niat untuk mempermalukan, melainkan sebagai upaya terakhir untuk memecahkan dinding bisu dan pengabaian yang telah mencekiknya. Ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan suaminya membuat ia kehabisan batas toleransi.
"Aku berani me posting ini bukan karna ingin menjelek”an mu tapi kejelekan mu sudah tidak bisa ku toleren lagi karna sesakit dan sesulit itu untuk aku berkomunikasi denganmu"
Penutup statusnya—By: istri cadangan yang kau telantarkan???—menjadi tanda tangan yang ironis, mencerminkan gabungan rasa pasrah, senyum pahit, dan luka yang tak tersembuhkan.
Kisah ini menjadi pengingat keras bagi kita semua tentang pentingnya integritas dalam komitmen pernikahan dan dampak buruk dari hubungan yang disembunyikan.
Curahan hati sang istri cadangan ini adalah seruan tentang hak untuk diakui, hak untuk dibimbing, dan hak seorang anak untuk memiliki figur ayah yang bertanggung jawab. Ia telah memilih untuk menyuarakan rasa sakitnya, berharap pengorbanannya tidak akan sia-sia.