Awas Sakit Sendiri, Ini 7 Tanda Teman Kamu Toxic

Kesejahteraan Teman
Sumber :
  • freepik

Olret – Pertemanan seharusnya jadi ruang aman untuk tumbuh, bukan sumber stres berkepanjangan. Sayangnya, tidak semua hubungan pertemanan membawa dampak positif. Ada tipe teman yang pelan-pelan menguras energi, membuat kepercayaan diri menurun, dan bikin kamu mempertanyakan diri sendiri. Berikut tujuh tanda umum teman toxic yang sering tidak disadari sejak awal.

Alasan Gen Z Lebih Aware Tentang Kesehatan Mental

1. Selalu Ingin Jadi Pusat Perhatian

Dalam setiap cerita, dia harus jadi tokoh utama. Saat kamu berbagi kabar, pembicaraan selalu dibelokkan ke dirinya. Perasaan dan pengalamanmu seolah kalah penting. Lama-lama, kamu merasa tidak benar-benar didengar dan kehadiranmu hanya pelengkap.

Rekomendasi 7 Kegiatan Me Time Yang Menyenangkan dan Menenangkan

2. Sering Meremehkan atau Menyindir

Candaan yang terasa menohok, komentar merendahkan, atau sindiran berkedok “bercanda” adalah ciri klasik teman toxic. Sekali dua kali mungkin terasa ringan, tapi jika terus terjadi, ini bisa menggerus rasa percaya diri dan membuatmu ragu pada kemampuan sendiri.

7 Tanda Kamu Butuh Me Time, Jangan Tunggu Burnout Baru Istirahat

3. Hanya Datang Saat Butuh

Teman seperti ini jarang muncul di hari biasa, tapi tiba-tiba sangat aktif ketika membutuhkan bantuan, dukungan, atau keuntungan tertentu. Saat kamu yang butuh, responsnya minim atau bahkan menghilang. Hubungan terasa timpang dan tidak saling memberi.

4. Tidak Senang Melihat Kamu Berkembang

Alih-alih mendukung, dia justru terlihat tidak nyaman saat kamu sukses. Prestasimu dianggap pamer, pencapaianmu dikecilkan, atau dibanding-bandingkan dengan orang lain. Teman toxic sering merasa terancam oleh kemajuan orang di sekitarnya.

5. Suka Membawa Drama

Masalah kecil selalu dibesarkan, konflik sering diciptakan, dan suasana tenang terasa langka. Berada di dekatnya membuat emosi terkuras karena harus menghadapi gosip, keluhan, atau konflik yang sebenarnya tidak perlu. Pertemanan jadi terasa melelahkan, bukan menyenangkan.

6. Melanggar Batasan Pribadi

Dia merasa berhak mencampuri keputusan hidupmu, mengatur pilihanmu, atau menuntut perhatian berlebihan. Ketika kamu mencoba memberi batas, responsnya bisa berupa rasa bersalah atau kemarahan. Teman yang sehat menghormati ruang pribadi, bukan menguasainya.

7. Membuat Kamu Merasa Bersalah Terus-Menerus

Setelah berbincang atau bertemu, kamu sering merasa bersalah, tidak cukup baik, atau merasa harus selalu mengalah. Ini bisa jadi tanda manipulasi emosional. Teman toxic kerap memutarbalikkan keadaan agar dirinya terlihat sebagai korban.

Menyadari bahwa seorang teman bersikap toxic bukan hal yang mudah, apalagi jika hubungan sudah terjalin lama. Namun, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga hubungan sosial. Mengurangi intensitas, menetapkan batas, atau bahkan menjauh bukan bentuk kejahatan, melainkan langkah merawat diri. Pertemanan yang sehat seharusnya memberi rasa aman, dukungan, dan ruang untuk menjadi diri sendiri.