Jangan Mudah Terkecoh, Ini 7 Trik Supermarket agar Pembeli Beli Lebih Banyak

Ilustrasi belanja
Sumber :
  • https://www.pexels.com/@gustavo-fring

5. Label Diskon yang Menjebak

Puncak Drama Dosen Malang: Ketika Celana Pendek Dituduh "Cabul", Disusul Aksi Guling-Guling yang Menggemparkan Medsos!

Tulisan “Buy 2 Get 1 Free” atau “Diskon hingga 50%” memang menggoda, tapi sering kali membuat kita membeli barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Trik ini disebut psychological pricing, kita merasa rugi kalau tidak ikut promo. Padahal, kalau dihitung ulang, belum tentu hemat. Tipsnya: sebelum ambil produk promo, tanya dulu ke diri sendiri, “Aku butuh atau cuma tergiur diskonnya?”

6. Penempatan Barang Impulsif di Dekat Kasir

Apa Itu Otrovert? Bedanya dengan Introvert dan Ekstrovert

Cokelat, permen, atau minuman kecil yang berjejer di dekat kasir bukan tanpa alasan. Area ini disebut impulse zone, tempat di mana pembeli paling rawan belanja spontan saat menunggu giliran membayar. Walau nilainya kecil, pembelian impulsif ini bisa menambah total belanja cukup banyak kalau dilakukan berulang.

7. Warna dan Pencahayaan yang Menipu Mata

Rahasia Kekayaan Orang Cina: 13 Trik Sederhana yang Bikin Tajir

Supermarket menggunakan pencahayaan dan warna tertentu untuk membuat produk terlihat lebih segar dan menarik. Misalnya, lampu kekuningan di area roti agar tampak hangat dan menggiurkan, atau lampu putih terang di bagian sayur supaya terlihat lebih hijau dan segar. Semuanya dirancang agar otak kita otomatis berpikir “wah, ini bagus banget!” dan langsung masuk ke troli.

Setiap elemen di supermarket baik dari tata letak, musik, sampai warna lampu itu sudah dirancang untuk satu tujuan adalah membuat kita membeli lebih banyak. Tapi bukan berarti kita nggak bisa mengakalinya. Buat daftar belanja sebelum pergi, hindari belanja saat lapar, dan fokus hanya pada barang yang benar-benar dibutuhkan. Dengan begitu, kita bisa tetap menikmati pengalaman belanja tanpa harus menyesal di kasir. Karena di balik rak-rak yang rapi dan musik yang menenangkan, supermarket sejatinya adalah arena psikologi belanja yang sangat cerdik!