Dunia Tidak Berputar pada Satu Orang : Respons Dingin Kadam Sidik di Tengah Badai Kritik Netizen

Kadam Sidik
Sumber :
  • x.com

Olret – Jagat media sosial kembali memanas setelah sebuah interaksi di platform X (Twitter) antara pembuat konten Kadam Sidik dan seorang netizen menjadi viral.

Rezeki Lancar dan Berkah: Kekuatan Doa Memohon Kemudahan

Di tengah suasana duka yang sedang menyelimuti publik, sebuah pernyataan dari Kadam Sidik memicu perdebatan mengenai empati dan batasan informasi pribadi di era digital.

Klarifikasi di Tengah Kontroversi

Doa Ketika Mengalami Kesempitan dan Kesusahan Dalam Islam

Berawal dari sebuah cuitan yang dianggap kurang sensitif oleh sebagian pihak, Kadam Sidik memberikan klarifikasi tegas mengenai posisinya terhadap sosok yang sedang menjadi pembicaraan.

Ia secara terbuka menyatakan bahwa dirinya bahkan tidak mengikuti (follow) akun orang yang bersangkutan.

Skandal Tumbler Hilang Milik Anita Dewi di KRL: Dari Kelalaian Kecil, Menuju Pemecatan Instan?

"Saya ngikutin yang bersangkutan saja tidak. Saya juga tidak tahu yang bersangkutan ternyata punya masa lalu demikian. Dunia tidak berputar di satu orang. Semoga Allah rahmati, terima amalnya, dan ampuni dosanya," demikian tulisnya dalam akun x pribadinya.

Pernyataan ini muncul sebagai jawaban atas kritik netizen yang mempertanyakan mengapa ia mengunggah cuitan tertentu di tengah berita duka.

Perspektif yang Berbeda

Poin paling mencolok dari respons Kadam Sidik adalah kalimatnya yang berbunyi, "Dunia tidak berputar di satu orang". Kalimat ini seolah menjadi pengingat bagi para pengikutnya bahwa setiap individu memiliki fokus dan realitas yang berbeda, bahkan ketika ada peristiwa besar yang sedang menyita perhatian publik.

Meskipun memberikan jawaban yang terkesan "dingin" dan realistis, Kadam Sidik menutup pernyataannya dengan sisi spiritual. Ia tetap memanjatkan doa agar sosok yang telah berpulang tersebut dirahmati, diterima amalnya, dan diampuni segala dosanya oleh Allah.

Pelajaran bagi Netizen

Kasus ini menjadi cermin bagi pengguna media sosial tentang bagaimana sebuah informasi—atau ketidaktahuan akan sebuah informasi—dapat disalahpahami jika tidak dikomunikasikan dengan hati-hati. Di satu sisi, netizen menuntut empati kolektif, sementara di sisi lain, individu memiliki hak untuk tidak terlibat dalam arus informasi yang sama.