Pengacara yang Mati Suri : Kisah Nyata Melawan Santet Paling Mematikan
- Youtube
Olret – Kisah nyata ini bagaikan skenario film horor yang dibalut dengan drama kehidupan. Seorang pengacara sukses yang hidupnya hancur karena perceraian, lalu harus berhadapan dengan teror ilmu hitam yang hampir merenggut nyawanya.
Inilah kisah Mbak Yanti, pengacara asal Cirebon yang nyaris dikubur hidup-hidup setelah terkena santet Towok Serut.
Kehancuran Hidup dan Awal Mula Teror
Awalnya, kehidupan Mbak Yanti berjalan normal, karier pengacaranya cemerlang, dan rumah tangganya harmonis. Namun, semua berubah sejak sang suami terjerat judi online. Harta ludes, usaha keluarga bangkrut, dan rumah tangga pun berantakan. Setelah mencoba bertahan, Mbak Yanti akhirnya memutuskan untuk menggugat cerai.
Proses perceraian selesai di awal tahun 2022. Sayangnya, ini bukan akhir dari penderitaannya, melainkan awal dari teror yang lebih mengerikan.
Sang mantan suami tak terima dan mulai melancarkan serangan: merusak rumah, menyabotase pekerjaan, hingga mengancam fisik. Namun, teror paling parah datang dalam bentuk yang tak kasat mata.
Ketika Penyakit Bukan Sekadar Penyakit
Tak lama setelah perceraian, Mbak Yanti mulai merasakan gejala aneh. Perutnya membengkak seperti orang hamil 8 bulan, napasnya sesak, dan rasa sakit luar biasa seperti ada yang memelintir organ dalamnya.
Ia sempat mengira itu penyakit biasa, tapi dokter tidak menemukan penyebabnya. Hasil pemeriksaan medis semuanya normal, padahal rasa sakitnya semakin menjadi-jadi.
Hingga suatu malam, rasa sakit itu mencapai puncaknya, membuatnya tak sadarkan diri. Keluarga yang panik membawanya ke beberapa ahli spiritual. Dari sinilah terungkap fakta yang mengejutkan: Mbak Yanti menjadi korban santet Towok Serut, ilmu hitam berbahaya dari suku Dayak di Kalimantan yang dikenal mematikan dan secara khusus menargetkan perempuan. Para ahli spiritual menduga kuat santet ini dikirim oleh seseorang yang sangat dekat dengannya.
Kuburan Bukan Akhir, Melainkan Awal Kebangkitan
Kondisi Mbak Yanti terus memburuk. Ia pingsan selama tiga hari penuh dan dinyatakan meninggal dunia oleh dokter. Keluarga telah mengikhlaskan dan menyiapkan proses pemakaman. Tubuhnya dimandikan, dikafani, dimasukkan ke dalam peti, dan dibawa ke pemakaman.