Media Indonesia Puji Vietnam: Vietnam Adalah Model Bagi Asia Tenggara
- afc
Olret – Media Indonesia memicu kontroversi dengan menyatakan bahwa Vietnam adalah model sepak bola Asia Tenggara, sementara Indonesia dan Malaysia akan kesulitan bersaing tanpa mengandalkan pemain naturalisasi secara besar-besaran.
Baru-baru ini, media Indonesia menerbitkan sebuah artikel dengan judul yang mencolok, mengklaim bahwa tim nasional Vietnam menjadi "tolok ukur" sepak bola Asia Tenggara, sementara Indonesia dan Malaysia akan kesulitan bersaing tanpa mengandalkan pemain naturalisasi secara besar-besaran.
Menurut Superball, kepercayaan diri sepak bola Vietnam berasal dari serangkaian hasil mengesankan selama dua tahun terakhir. Setelah kemenangan Piala AFF 2024, tim asuhan pelatih Kim Sang-sik telah mempertahankan performa yang konsisten baik di level tim nasional junior maupun senior.
Vietnam
- thethao247.vn
Pada pertengahan tahun 2025, tim U23 Vietnam akan memenangkan Kejuaraan Asia Tenggara U23 yang diadakan di Indonesia. Di final, tim tersebut secara dramatis mengalahkan tuan rumah dengan skor 1-0.
Tidak berhenti di situ, Vietnam kemudian akan memenangkan medali emas SEA Games setelah melakukan comeback spektakuler melawan Thailand di final, tertinggal 0-2 tetapi akhirnya menang 3-2.
Pada Kejuaraan AFC U23 2026, perwakilan Asia Tenggara ini terus mengharumkan nama negaranya dengan meraih peringkat ketiga secara keseluruhan. Prestasi beruntun di level junior dan tim nasional ini telah menjadikannya sebagai tim yang paling stabil dengan fondasi internal terkuat di kawasan ini.
Yang perlu diperhatikan, sebagian besar kesuksesan ini berasal dari pemain-pemain yang dilatih di dalam negeri. Meskipun ada beberapa pemain kelahiran Vietnam yang bermain di luar negeri, strategi naturalisasi mereka tidak seagresif Indonesia atau Malaysia.
Media Indonesia berpendapat bahwa tanpa pemain keturunan Eropa dan Amerika Selatan, Indonesia dan Malaysia akan kesulitan bersaing secara setara dengan Vietnam saat ini.
Pandangan ini telah memicu banyak perdebatan di kawasan tersebut, terutama mengingat banyaknya pemain berdarah campuran Indonesia di luar negeri dan upaya aktifnya untuk mempromosikan naturalisasi.
Sementara itu, sepak bola Malaysia baru-baru ini diliputi berbagai kontroversi terkait profil pemain kelahiran luar negeri. Insiden tersebut bahkan menjadi skandal besar dan dibawa ke Mahkamah Arbitrase Olahraga (CAS).
Oleh karena itu, persaingan antara tiga negara sepak bola terkemuka di Asia Tenggara bukan hanya tentang performa di lapangan, tetapi juga berputar di sekitar strategi pengembangan jangka panjang: berinvestasi pada talenta domestik atau memanfaatkan pemain naturalisasi. Dan saat ini, menurut media Indonesia, Vietnam memiliki fondasi yang paling kokoh di kawasan ini.