Jabatan Kepala Pelatih di MU: Sebutan yang Glamor atau Jebakan Kekuasaan?
- google image
Olret – Ketika Ruben Amorim meninggalkan Sporting CP untuk mengambil alih Manchester United pada akhir tahun 2024, ia diharapkan membawa angin segar ke Old Trafford.
Namun, sejak hari pertama, Amorim menghadapi hambatan besar terkait kekuasaan dan gelar. Meskipun diangkat sebagai pelatih kepala – sebuah perubahan bersejarah di MU sejak 1969 – ia secara terbuka menegaskan dirinya sebagai seorang "manajer," menginginkan kendali penuh atas setiap aspek permainan tim.
Pemicu dari posisinya
Konflik meletus setelah hasil imbang melawan Leeds United, ketika Amorim membuat pernyataan keras tentang wewenangnya kepada media.
Pernyataan ini tidak hanya memicu kontroversi tentang peran sebenarnya tetapi juga menantang kepemimpinan MU, khususnya direktur sepak bola Jason Wilcox dan grup Ineos. Kurang dari 24 jam kemudian, Amorim dicopot dari semua wewenangnya, menandai berakhirnya masa pemerintahan yang baru saja terbentuk.
Pelajaran tentang Realitas Sepak Bola Modern
Kepergian Amorim adalah bukti nyata perbedaan antara "manajer" dan "pelatih kepala" dalam sepak bola modern. Karena kekuasaan semakin tersebar di antara direktur olahraga dan aparat administrasi, peran pelatih kepala semakin menyempit, berfokus pada keahlian teknis daripada memiliki kekuasaan pengambilan keputusan absolut seperti di era Sir Alex Ferguson.
Pelajaran dari Amorim mengingatkan kita bahwa, dalam sepak bola abad ke-21, gelar bukan hanya sebutan tetapi juga batasan kekuatan sejati seorang ahli strategi.